Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Review Suffragette (2015): Era Kebangkitan Perempuan Inggris

Suffragette

Ada masa-masa di Eropa dimana kaum perempuan didiskriminasi. Mereka, jika bekerja, dibayar dengan upah lebih rendah dari pria, pun tak mendapat hak hukum dalam status perkawinan. Sebagaimana contoh di Inggris, pada akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20, perihal diskriminasi ini masih terus terjadi.

Oleh karenanya, sebuah gerakan bernama 'suffragette' yang terinspirasi dari protes melalui mogok makan di Rusia, muncul untuk memperjuangkan nasib perempuan di Inggris Raya. Gerakan inilah yang kemudian menjadi basis awal dari film Suffragette.

Suffragette

Suffragette berlatar akhir abad ke 19. Setting-nya cukup bagus, dengan mobil-mobil khas abad ke 19 bersliweran di jalan raya serta gedung-gedung dan kostum yang mencerminkan jaman tersebut. Sayangnya ikon bangunan penting yang menjadi penanda khas tak disorot, sehingga jika tak membuka-buka Wikipedia, saya pikir Suffragette ini film Hollywood.

Ya, well logat Inggris dari para pemainnya tak medhok meski memang tak ada logat Amerika disini. Suffragette menawarkan sebuah film berlatar klasik, dengan periodisasi sejarah dimana hak-hak sipil kaum perempuan masih ditempatkan di taraf yang rendah sekali.

Kesuksesan gerakan Suffragette dipicu oleh pengorbanan dari Emily Wilding Davison yang dalam film ini diperankan oleh Natalie Press. Namun tokoh utama yang mendapat banyak porsi cerita justru bukanlah Emily, namun Maud Watts yang diperankan oleh Carey Mulligan. Maud merupakan seorang pekerja laundri.

Di laundri ini 'kegelapan' jaman dimana wanita benar-benar diposisikan di titik nadir terlihat. Pekerja-pekerja wanita di laundri tersebut sering mendapat perlakuan yang kurang baik dari sang bos. Mereka bekerja lebih banyak namun dengan upah lebih sedikit dari kaum pria. Bahkan mereka ada yang lahir disana akibat ibu mereka pun tak mampu meninggalkan pekerjaan meski sedang hamil.

Maud Watts pun menjadi contoh bagaimana kehidupan rumah tangga para wanita Inggris kala itu. Tak ada nuansa egaliter di dalam keluarga itu. Apalagi kalau berbicara soal hak-hak hukum dalam perkawinan.

Suffragette

Kejadian demi kejadian yang menimpa Maud Watts inilah yang memicunya tertarik bergabung dengan Suffragette yang dimpimpin oleh Emmeline Pankhurst (Meryl Streep). Awal kali bergabung, Maud dihubungkan ke Edith Ellyn (Helena Bonham Carter). Edith ini semacam komandan wilayah bagi Suffragette.

Jadi aksi-aksi yang dilakukan Suffragette di wilayah itu selalu dilakukan oleh gengnya Edith, yang tentu saja di dalamnya ada Maud. Kelompok ini selalu berulang masuk-keluar penjara.

Pelan namun pasti gerakan ini memang membesar, namun ada masanya pun gerakan ini mulai menyusut. Media, aparat keamanan, serta lingkungan sendiri seringkali menjadi musuh bagi keberadaan anggota-anggota Suffragette.

Kala aparat semakin represif, media dan lingkungan selalu tak mendukung, para anggota pun mulai terpecah. Ada beberapa diantaranya yang memilih tak ikut aksi dan juga memilih mundur dari gerakan. Di tengah kondisi semacam ini, peran martir mutlak diperlukan.

Tujuan pertama tentu saja membangkitkan semangat para anggota, serta tujuan selanjutnya adalah mencitrakan bahwa pemerintah berlumuran darah pejuang Suffragette. Dan pasca kematian Emily, gerakan ini menemui keberhasilannya. Hukum-hukum di Inggris mulai direvisi untuk berpihak pada perempuan.

Film Suffragette sendiri digolongkan kedalam kategori drama-thriller. Untuk itulah kalaupun disebut drama yang murni, Suffragette agak kurang pas, dan jika dimasukkan ke thriller sendiri terlampau banyak cerita sedih yang mengiringi film berdurasi 1 jam 46 ini.

Namun dengan sutradara perempuan, Sarah Gavron, Suffragette agaknya memang dibawa lebih ke arah drama ketimbang suguhan sejarah kebangkitan kaum perempuan di Inggris. Apakah film ini tergolong ke dalam film bagus? Bisa jadi, tergantung dari sudut mana anda mau menikmatinya.

Posting Komentar untuk "Review Suffragette (2015): Era Kebangkitan Perempuan Inggris"