Ulasan The Danish Girl: LGBT, Penyakit Atau Pilihan Hidup?

Transgender layaknya sebuah buku ensiklopedia, yang bisa diakses siapapun dan ditafsirkan secara bebas. Bersama dengan saudaranya yang lain dalam singkatan LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender), transgender menjadi sebuah wacana yang didiskusikan oleh ragam sektor, baik agama, kesehatan, kejiwaan hingga politik dan ekonomi. Namun apakah transgender menjadi tabu dalam industri film? Tidak sama sekali.

Bahkan di televisi, transgender, baik yang asli maupun cuma polesan seni peran, memang hadir saban hari di televisi kita. Dus, LGBT sudah sedemikian sering pula difilmkan, baik dalam perannya sebagai cameo, figuran maupun menjadi tema tunggal. The Danish Girl hadir menawarkan cerita soal tema ini dan dalam perannya yang utama.

The Danish Girl hadir lewat premis yang orisinal. Artinya transgender dalam The Danish Girl betul-betul muncul lewat tuturan mengapa tokoh utama yang diceritakan mengalami gejala transgender. Saya pernah menyimak Pride, dimana kelompok LGBT menjadi peran utama, namun premis originnya tak ada.

Pride memunculkan epik perjuangan kaum LGBT dalam mendukung sekelompok warga yang terdesak oleh perusahaan tambang di Inggris. LGSM yang berarti Lesbian and Guy Support the Miners. The Danish Girl mewujudkan sosok tunggal, tanpa afiliasi apapun, hanya kisah cinta antar anak manusia yang 'terjebak' hegemoni fisik laki-laki dan perempuan.

Tom Hooper, sebuah nama yang sempat melambung lewat The King's Speech, melalui The Danish Girl mempersembahkan sebuah cerita yang mengangkat sebuah karya fiksi dari David Ebershoff. Meski fiksi, novel yang diterbitkan pada tahun 2000 tersebut berlandaskan kisah nyata dari sepasang pelukis Denmark, Lili Elbe dan Gerda Wegener.

Eddie Redmayne menjadi sorotan dalam film ini, karena perannya sebagai dua orang sekaligus berbeda 'jenis kelamin': Lili Elbe dan Einar Wegener. Ya, aktor dibalik kesuksesan The Theory of Everything memerankan peran transgender tersebut. Sementara aktris yang sedang naik daun lewat aktingnya dalam Ex Machina dan The Man From U.N.C.L.E, Alicia Vikander, memerankan sosok Gerda.

Review The Danish Girl

Pada mulanya tak ada yang aneh dengan kehidupan Einar dan Gerda Wegener. Keduanya merupakan pelukis yang cukup tersohor di Denmark pada 1920-an. Mereka tinggal di flat di tengah kota Kopenhagen. Intinya tak ada kejadian luar biasa yang menyertai mereka. Hingga pada satu ketika, Gerda dituntut untuk mencari gaya melukis yang lain agar tingkatannya sebagai pelukis mampu menyamai suaminya.

Sayangnya, model perempuan yang diperlukan urung datang. Gerda punya ide, yang mungkin bakal disesalinya sepanjang hidup. Idenya adalah Einar diminta untuk berdandan bak perempuan. Tak hanya itu, Einar diminta untuk benar-benar menjiwai sosok perempuan. Dan langkah ini tentu saja menuai hasil. Dengan mengambil nama Lili, Einar menjadi sosok perempuan dan menarik banyak mata lelaki ke arahnya. Dan kisah The Danish Girl pun dimulai.

Einar menemukan kecenderungannya yang sempat hilang selama bertahun-tahun. Ia memang punya kecenderungan perempuan dalam dirinya. Kepribadian ganda? Mungkin. Namun dokter yang mendiagnosanya mengatakan bahwa Einar punya gejala hormonal yang 'mengajak' pribadinya untuk menjadi perempuan. Setelah diberikan terapi sinar radiasi (?), ternyata pribadi Einar yang masih ingin menjadi Lili tetap bertahan. Dokter memutuskan untuk menyembuhkan Einar. Namun Einar memilih pergi dari tempat perawatan.

Rumah tangga Gerda dan Einar mulai berantakan. Karena Einar tak cuma menjadi wanita yang dituntut sebagai objek lukisan, tapi juga menjadi subjek wanita sungguhan yang jatuh cinta pada lelaki. Iya, jatuh cinta pada lelaki.

Pada taraf ini kita memahami bahwa kodrat manusia itu selalu berhasrat pada lawan jenis. Dan dalam posisi Einar, ia memilih untuk menjadi wanita yang jatuh cinta pada sosok Henrik (Ben Whishaw). Dan Henrik pun bukan tak tahu jika Lili adalah Einar yang mengenakan baju perempuan. Silakan perhatikan dialog ketika Lili bertamu ke rumah Henrik pada suatu siang.

Review The Danish Girl

Eddie Redmayne memegang peranan penting dalam The Danish Girl. Penjiwaannya dalam sosok Lili, Einar, dan tranformasi dari Einar ke Lili patut diacungi jempol. Lepas dari soal nuditi yang ditampilkan oleh Tom Hooper, kita jadi tahu bagaimana sisi kejiwaan seorang laki-laki yang memiliki penyakit kejiwaan untuk menjadi perempuan. Dan kita pun tahu, ada sisi egoisme yang besar dalam sosok transgender semacam Einar.

Ia berulang kali berkata, "Ada Lili dalam jiwa saya,", "Saya berpikir apa yang Lili pikirkan, saya bermimpi apa yang diimpikannya. Dia selalu disini," yang bahkan ia memilih untuk menanggalkan 'tubuh' Einar dan menjadi Lili sepenuhnya dengan mengiyakan tawaran Dr. Warnekros (Sebastian Koch) untuk melakukan operasi kelamin.

Maka, ketika menganggap bahwa transgender adalah sebuah ensiklopedia, tafsiran dalam film ini pun boleh jadi beragam. Ada yang menganggap mengapa Einar tak mau disembuhkan dan hanya menuruti keinginannya semata? Sementara Gerda yang setia padanya pun diacuhkan demi menuruti keinginan tersebut.

Pihak yang ini menjustifikasi bahwa Einar adalah sosok antagonis. Apalagi ketika Einar dengan senang hati, riang gembira dan sumringah kala mengetahui Dr. Warnekros mampu memenuhi keinginannya menjadi Lili secara penuh. Senyum Einar ditengah tangis Gerda menjadi semacam penguat justifikasi ini.

Lantas bagi yang melihat bahwa kecenderungan Einar menjadi Lili karena faktor 'by given', tentu saja menjadikannya sosok protagonis. Lantas, siapa antagonisnya? Bisa jadi Gerda, yang memberi jalan Einar untuk menjadi perempuan, bisa jadi pula Tuhan, yang memberikan penyakit kejiwaan tersebut. Tapi tentu tak ada yang menyalahkan Tuhan dalam kasus ini.

Tafsiran transgender secara khusus, dan LGBT secara umum tentu memiliki kutub-kutub semacam ini. Pilihan sikap atas fenomena yang kabarnya sudah muncul sejak jaman Nabi Luth ini pasti ditentukan oleh bacaan yang beragam, yang telah dimiliki oleh masing-masing penafsir. Lantas, kamu menafsirkan LGBT seperti apa?

Posting Komentar untuk "Ulasan The Danish Girl: LGBT, Penyakit Atau Pilihan Hidup?"