Review Film - The Revenant (2015): Kisah Para Pemburu Beruang

Bagaimana rasanya hidup di tengah hutan bersalju? Tak hanya itu, tubuhmu pun baru saja dicabik-cabik beruang grizzly yang begitu besar. Lalu apa yang membuatmu masih bertahan hidup? The Revenant menjawabnya. Karya Alejandro González Iñárritu ini memberikan sebuah kengerian tersebut dengan begitu terang. Setiap detailnya, bahkan luka-luka, dan cara bertahan hidup diterangkan begitu gamblang.

The Revenant menceritakan sekelompok pemburu kulit beruang pada tahun 1820-an. Mereka memburu beruang di pedalaman hutan Amerika utara, bertemu dengan cuaca ekstrim bersalju yang dahsyat, lansekap yang tak bersahabat, ditambah suku Arikara (dalam film disebut Ree) yang menjadi musuh bagi para kulit putih. Film bergerak cepat di awal. Pada sepuluh menit awal, kita langsung disuguhkan dengan pembantaian kelompok pemburu beruang di bawah pimpinan Hugh Glass (Leonardo Di Caprio) oleh suku Ree. Kengerian baku hantam senjata tajam, panah, dan senapan benar-benar di close up secara jelas. Darah berceceran dimana-mana. Erangan sakit pun terdengar tek henti-henti. Ketegangan bahkan masih menyelimuti kelompoknya Glass ini meski mereka telah jauh dari suku Ree.

The Revenant

Cerita tak sampai disitu. Bahkan cerita utamanya pun baru saja dimulai, ketika Glass yang sendirian untuk memantau situasi tiba-tiba disergap oleh beruang grizzly. Asal tahu saja, beruang ini berat betinanya mencapai 180 kg. Dan Glass memang diserang oleh grizzly betina. Badannya koyak dimana-mana, kaki patah, dan lehernya pun tersayat. Sebenarnya tak mau lihat layar karena kengerian ini, tapi rasa penasaran mengalahkan segalanya. Benar-benar ngeri. Karena sinematografer, Emmanuel Lubezki, benar-benar tak melewatkan setiap cabikan beruang dan daging yang terkoyak. Darah dan erangan sakit Glass benar-benar di sorot dengan baik. Lantas wakil dari 'perusahaan' pemburu kulit beruang tersebut meminta beberapa orang untuk menjaga Glass yang cedera. Karena bagaimanapun membawa tandu di tengah cuaca ekstrim bakal membebani kelompok dalam perjalanan. Tiga orang akhirnya memilih tinggal menjaga Glass. Anak Glass, Hawk (Forrest Goodluck), Bridger (Will Poulter), dan John Fitzgerald (Tom Hardy).

The Revenant

Kalau boleh memberikan kategori hitam putih, maka tokoh yang diperankan Tom Hardy ini menjadi antagonis. Sikapnya yang membunuh Hawk dan berupaya mengubur Glass hidup-hidup menjadikannya pantas masuk dalam kategori tersebut. Glass ditinggal di tengah hutan sendirian, bersama mayat Hawk yang membujur beku. Namun kalau dipikir-pikir, apa bedanya Fitzgerald dengan naluri bertahan kelompok pemburu beruang tersebut? Keduanya sama meninggalkan Glass tersebab cuaca ekstrim dan ancaman suku Ree. Glass dianggap oleh keduanya sebagai beban yang bakal menghambat perjalanan. Lantas apakah masih pantas Fitzgerald disikapi sebagai antagonis?

Pasca ditinggal Fitz ternyata Glass masih berjuang bertahan hidup. Ia merangkak jengkal demi jengkal untuk mencari kehangatan. Perutnya diganjal dengan apa saja yang ditemuinya. Dalam menapaki adegan survival ini, Leonardo bahkan harus memakan hati bison dan ikan mentah betulan! Lalu dengan alasan apalagi aktor ini tak diganjar Oscar? Tokoh Glass yang diperankannya ini pun terus bertahan. Apa yang membuat Glass masih bertahan? Dendam atas kematian putranya 'kah? Atau memang keinginannya untuk hidup saja yang membuatnya menjadi seorang pelaku revenant? Lagi, kamu yang memilih.

The Revenant menyabet 12 nominasi Oscar tahun ini. Apakah salah satunya bakal menabalkan Leo sebagai aktor terbaik? Itu tergantung kesialan yang terus melandanya sepanjang perhelatan penghargaan insan film paling bergengsi di Hollywood ini. Yang jelas, kita mesti berterima kasih atas pencapaian Emmanuel Lubezky yang telah memberikan sorot kamera luar biasa sepanjang durasi 2,5 jam film ini. Kita memang diingatkan akan gaya sorot kamera dari film terbaik Oscar tahun lalu, Birdman, yang juga disutradarai dan oleh orang yang sama dengan sinematografer yang sama juga. Keduanya sama-sama menakjubkan. Bedanya di The Revenant, Lubezky menghantarkan sebuah pengalaman seru dalam menikmati setting di lansekap pedalaman hutan yang ekstrim, sedikit gelap dan tentu saja dingin. Bahkan kita mesti standing applause atas jerih payah kru produksi film ini yang juga ikut menikmati dinginnya hutan di Amerika utara (Kanada) yang bahkan bisa mencapai munus 25 derajat.

The Revenant

Jerih payah seluruh kru telah tuntas dibayar oleh kesuksesan The Revenant dalam menapaki laju laba maupun penghargaan. Setidaknya, meski telah didepak jauh oleh Deadpool, The Revenant masih mampu mengais USD 159 juta laba kotor dari biaya produksi sebesar USD 135 juta. Tinggal kita menanti setelah Leo mendapat begitu banyak penghargaan sebagai Pemeran Utama Terbaik dari Golden Globe, BAFTA Film Award, Screen Actors Guild Awards, Alliance of Women Film Journalists, Austin Film Critics Association, dan lain-lain, apakah ia mampu meraih Oscar yang sepanjang karirnya belum pernah ia dapatkan? Kita lihat nanti.

Update: dan akhirnya, setelah penantian yang begitu panjang, Leonardo mendapatkan Oscar pertama kali sepanjang karirnya. Selamat!

Posting Komentar untuk "Review Film - The Revenant (2015): Kisah Para Pemburu Beruang"