Paperfuge: Gasing yang Sangat Membantu dalam Dunia Kedokteran

Gasing ternyata menyimpan potensi yang menakjubkan. Sebuah benda yang selama ini hanya dikenal di kalangan anak-anak di kampung ternyata menyimpan manfaat yang mampu menginspirasi para ilmuwan di bidang kedokteran.


Dari gasing tersebut, para peneliti menemukan ada gaya sentrifugal yang bisa dimanfaatkan. Sehingga mereka menirukan gasing tersebut namun mengubah bahan gasing dengan bahan yang bisa diisi dengan darah, serum, atau sejenisnya.

Paperfuge

Hal ini ditemukan oleh para peniliti di Universitas Stanford, California, AS. Mereka menyebutnya paperfuge, sambil memiripkan dengan centrifuge blood --sebuah mesin yang fungsinya sama namun berharga mahal, dan tentu saja butuh listrik.

Oleh para peneliti tersebut, paperfuge dipakai untuk memisahkan darah untuk kemudian menentukan penyakit apa yang sedang diidap oleh penderita.

Hal semacam ini memang sudah lumrah di negara-negara maju, karena ketersediaan peralatan yang mumpuni. Namun tidak begitu dengan negara berkembang, bahkan mungkin negara konflik, yang ketersediaan peralatan dan sumber listriknya terbatas.

Centrifuge blood memang berharga sangat mahal, mencapai ribuan dollar dan butuh listrik untuk memfungsikannya. Sehingga negara-negara miskin, atau bahkan negara konflik kesulitan untuk menerapkan teknologi tersebut.

Untuk itu temuan para peneliti Stanford ini mampu memecahkan cara agar praktek kedokteran di negara-negara tersebut bisa jauh lebih murah dan praktis tanpa meninggalkan pakem yang sudah ada.

Manu Prakash, pimpinan peneliti Stanford, memang terinspirasi oleh mainan gasing yang biasa dipakai anak kecil. Mainan yang kabarnya berusia 5000 tahun tersebut ternyata masih relevan dengan jaman. Sebab, menurut Prakash, sebuah gasing mampu menghasilkan kecepatan yang dibutuhkan oleh teknik pemisahan darah. Ini sama dengan yang dihasilkan sebuah mesin centrifuge blood.

Paperfuge kemudian dibuat dari sebuah piringan kertas yang bisa diisi oleh darah. Dengan mekanisme sama, yakni seutas tali membentang dua kali di tengahnya dan untuk memudahkan penggunaan, dipakailah kayu sebagai pegangan di kedua sisinya.

Paperfuge mampu berputar 20,000 kali per menit. Ini sudah memangkas biaya ribuan dollar atau puluhan juta rupiah, sebab sebuah paperfuge hanya berbiaya 20 cents atau jika dirupiahkan hanya berkisar Rp.2,600 saja.

Sebagaimana dipublikasikan di Nature Biomedical Engineering, paperfuge telah teruji. Alat ini mampu memisahkan parasit malaria dalam darah hanya dalam waktu 15 menit saja. Dan tiba saatnya untuk paperfuge diuji di lapangan, dan pada akhirnya sedikit mengubah peta dunia kedokteran.