Resensi: Seribu Sujud Seribu Masjid Tandi Skober

Tandi Skober, saya mengenalnya dari Harian Pikiran Rakyat. Harian warga Jawa Barat ini meresensi novel yang di tanah kelahiran Tandi Skober, Indramayu, cukup kontroversi: Pelacur, Politik, dan Hehehe.

Pria yang juga pensiunan Departemen Keuangan RI tersebut rupanya ingin menghapus jejak korntroversinya dengan menulis satu novel berjudul Seribu Sujud Seribu Masjid. Hal ini ditegaskan di dalam salah satu ruas dialog tokoh dalam novel setebal 275 halaman tersebut.

Seribu Sujud Seribu Masjid merupakan novel terbitan Salsabila, sebuah lini sastra dari Penerbit Pustaka Al-Kautsar. Ceritanya lugas, dibahasakan oleh Tandi dengan gaya khas pantura. Disini kita banyak menemukan bahasa-bahasa jawa ngoko khas Indramayu. Lugas, vulgar, dan cukup berani.

Apresiasi saya pada Tandi Skober dengan sebutan kata berani, adalah pada soal kultur bahasa Indramayu yang beliau angkat.

Hal ini positif mengingat ruang-ruang kultur Indramayu yang kemana-mana terkesan negatif, berimbas pula pada bahasa Indramayu yang digunakan. Karena pada sebagian orang, ada rasa malu menyelinap ketika memakai bahasa Indramayu dalam pergaulan regional, terlebih pada ruang-ruang sastra. Sehingga pemakaian unsur kultur bahasa pantura dalam novel religius karya Tandi ini bisa menghapus ketakutan seniman-seniman lokal lain untuk menggunakan unsur bahasa Indramayu.


Resensi

Seribu Sujud Seribu Masjid mengangkat sebuah tragedi kemanusiaan yang terjadi pada kurun waktu 1965 di Sekober Indramayu. Kasdi, saat itu masih kecil, harus rela kehilangan ayahnya akibat tragedi genosida PKI. Ayah Kasdi, Camang, ditembak oleh tentara Republik Indonesia karena masuk dalam daftar anggota PKI.

Camang diduga terlibat gerakan PKI. Ayah Kasdi ini dituduh terlibat hanya karena bekerja sebagai pembersih peralatan drum band di rumah Bah Ce Nong, saudagar etnis tionghoa yang menjadi kader Baperki (underbouw PKI).

Dialog humanisme Kasdi dengan Camang bisa dinikmati ketika Kasdi bertanya pada Camang soal ibunya. Ibu Kasdi, Sedep, ditembak tentara saat memberi jamuan berbuka puasa pada pasukan DI/TII. Dan kala ini Kasdi kebingungan, demi melihat ayahnya yang diduga komunis akan dibunuh tentara juga seperti ibunya.

Lantas, harus menjadi pejuang Islam layaknya DI/TII atau menjadi komunis seperti PKI? Toh, pada akhirnya kedua-duanya ditembak tentara juga.

Di tempat dan kisah lain, sosok Soe Hok Gie pun pernah melakukan ‘pemberontakan’ ini. Gie menilai apa yang dilakukan PKI dengan melakukan Gestapu memang tidak dibenarkan secara hukum dan kemanusiaan, namun pasca itu ABRI yang juga melakukan hal yang sama terhadap para kader dan anggota PKI pun sama tidak benarnya. Ini sama halnya dengan mengutuk buasnya harimau dan kita menggantinya dengan taring liar singa.

Seribu Sujud Seribu Masjid menuturkan sebuah alur romantika Kasdi dalam mempertahankan ritme spiritualnya. Berbekal surau peninggalan kakenya, Kakek Wanda, Kasdi dengan sabar mengajak semua orang di lingkungannya untuk sholat berjamaah.

Keyakinan Kasdi cuma satu, ayahnya yang hilang ditembak tentara, akan kembali sholat di surau kakek Wanda ini.

Spiritualitas Kasdi bertambah ketika datang satu sosok pendakwah, bernama Priadi. Ia mantan pejabat yang sudah merelakan dirinya untuk khuruj fii sabilillah, dan kini sedang menetap di surau Kasdi.

Ditambah pula Cipto, mantan konglomerat hitam yang bertobat dan menyerahkan dana yang tak sedikit untuk membantu dakwah mereka. Bersama Bana, anak berkebutuhan khusus, mereka berempat bergantian menjadi ibadur rahman di surau tersebut.

Drama muncul ketika Zumimah, teman kecil Kasdi, hadir kembali di tengah-tengah perjalanan dakwah keempat orang tersebut. Zum yang pernah menjadi pelacur dan pencopet tersebut hadir menawarkan segudang fasilitas dakwah untuk Kasdi dan kawan-kawan.

Fasilitas itu datang dari kawan Zum, yang juga karib Kasdi, Zaki PM. Zaki ingin membeli tanah yang ditempati surau Kasdi. Berbagai cara dilakukan oleh Zaki, sampai cara paling paripurnanya adalah melalui Zum, yang bersandiwara menjadi wanita sholihah.

Zaki sempat tergoda untuk menjual tanah tersebut, sampai Zum sendiri yang mengatakan bahwa semua ini hanya sandiwara. Dan, akhir novel ditutup dengan ditemukannya mayat perempuan yang berbau harum di danau, tak lain, itu adalah mayat Zum.

Epilog

Suguhan kata-kata yang lugas dari Tandi Skober seolah mengajak para seniman kata-kata yang berasal dari Indramayu dan bermukim di Indramayu untuk bersama-sama mengangkat kultur pantura, baik bahasanya maupun budayanya.

Novel karya penasehat Sipritual Indonesian police Watch ini pun seolah membangunkan semua pihak bahwa citra negatif yang selama ini melekat pada kultur dermayonan bisa dihilangkan dengan mengupas kulit dan memperlihatkan substansi dari budaya pantura yang memiliki nilai-nilai luhur.

--------

Ini tulisan lama yang diunggah untuk mengenang almarhum Kang Tandi Skober. Beliau sosok penulis asal Indramayu yang sangat bersahaja. Buku Seribu Sujud Seribu Masjid adalah awal perkenalan saya dengan almarhum.

Saya masih punya satu hutang dengan beliau, yakni meresensi Namaku Nairem. Nanti ya, kang, mudah-mudahan dalam waktu dekat.

Semoga beliau damai di sisi Allah SWT. Amiin.

Belum ada Komentar untuk "Resensi: Seribu Sujud Seribu Masjid Tandi Skober"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel