Resensi: The Art of Stimulating Idea Bambang Trim

Sebagai editor kawakan di industri perbukuan Indonesia, Bambang Trim sudah memiliki wewenang ilmiah dan kapasitas yang sangat layak ketika berbicara soal industri buku dan dunia kreatif yang menyertainya.



Lewat sebuah buku, pria kelahiran 29 Juni 1972 di Tebingtinggi Deli itu, membuka rahasianya di bidang kreatifitas dalam industri perbukuan. Lewat buku yang diberi judul The Art of Stimulating Idea, pemilik nama lengkap Bambang Trimansyah tersebut mengemukakan jurus bagaimana menemukan ide yang notabene menjadi hulu dari dunia buku.

Ide Stimulus Perbukuan


Ada banyak stimulus ide. Bambang Trim mencontohkan Sitor Situmorang yang menemukan idenya di kuburan, lantas menelurkan sebuah sajak yang singkat, berjudul Malam Lebaran, berisi bulan di atas kuburan.

Ia kemudian menegaskan bahwa ide bukanlah hasil sebuah pencarian, namun penemuan. Tak penting seberapa penting ide itu bagi anda, begitu ungkap Bambang Trim, yang terpenting, karena kemungkinan tak bertemu lagi dengannya, ikatlah ide itu dengan menulis.

Ada begitu banyak penulis besar dengan ide yang mengguncang. Bambang Trim mencatatkan beberapa nama, seperti Abu Hamid Al-Ghazali, Paul A. Samuelson, Peter Drucker, Aidh bin Abdullah Al-Qharni, JK Rowling, Robert Kiyosaki, Tony Buzan, dan beberapa penulis kondang dunia lainnya.

Lelaki yang menyebut dirinya sang Komporis Buku Indonesia ini juga mencantumkan beberapa nama penemu ide yang menuliskan idenya dan dibukukan. Hasilnya, banyak diantaranya menghantarkan dunia ini mengalami perubahan wajah.

Tahapan Menstimulus Ide


Stimulasi ide bisa dilakukan melalui banyak aktifitas. Bambang Trim menyarankan beberapa aktifitas untuk dipraktekkan, yakni membaca, tukar pikiran, silaturahmi, traveling, bermain, bermusik, dan berbagi. Namun tak dipungkiri, ide pun bisa saja dicuri atau dijiplak. Untuk itulah, sang Komporis buku ini menceritakan bagaimana langkah antisipasinya agar ide itu tak dicuri.

Ia menceritakan agar sebelum dieksekusi, ide itu hendaklah jangan dibagi dulu dengan orang lain, atau bagilah namun hanya orang-orang yang telah dipercaya saja untuk mengeksekusinya. Tapi, bisa saja ide kita sama dengan ide orang lain, karena ide itu begitu banyak dan bertaburan.

Untuk itulah owner Dixigraf, sebuah perusahaan publishing service di Bandung ini mengemukakan satu istilah menarik, yakni interconnecting quotient alias kecerdasan mengoneksi.

Kecerdasan ini mampu mengoneksikan pikiran dari sebegitu banyak ide. Sehingga, dari banyak ide itu, sang penemu ide mampu melakukan seleksi ide manakah yang paling layak untuk diambil dan diteruskan. Kini, setelah ide itu muncul tinggal bagaimana kita mengeksekusinya.

Buku The Art of Stimulating Idea ini merupakan buku yang cukup lengkap untuk para penulis buku, apalagi penulis pemula untuk mengatur sistematika pembuatan tulisannya.

Contohnya dalam bab Mengeksekusi Ide, Bambang Trim memberikan contoh-contoh matriks setelah ide itu muncul. Bagan-bagan tentang ide itu mau dikemanakan, sudah dikasih secara matang di buku ini, bahkan apakah ide itu layak atau tidak untuk diteruskan, segmentasi penulis dan pembaca dibagi secara terang benderang olehnya.

Sesuai dengan subjudul buku, Bambang Trim mengompori para pembaca lewat ajakannya untuk mulai mengikat ide, segera menulis, dan meramaikan dunia literasi Indonesia. Hal tersebut dibahasakan oleh sang Komporis Buku ini lewat kata insaf.

Insaf Dunia Perbukuan


Ya, insaflah untuk segera menulis jika ingin menjadi pengikat ide kita, insaflah untuk jadi diri sendiri, insaflah untuk berhenti menulis secara beramai-ramai, insaflah untuk tidak membajak karya orang lain, insaflah untuk eksis dan memanfaatkan jejaring sosial, insaflah ada editor yang memburu dan membantu anda, serta insaflah untuk melakukan benchmarking.

Semuanya diawali dengan pertanyaan apakah ide kita itu memenuhi unsur: menarik, penting dan amanat? Barulah kita memasarkan ide tersebut.

Bagaimana memasarkan ide? Lagi-lagi Bambang Trim membantunya lewat BfP atau Brief for Publisher. BfP berupa form yang berguna untuk menggambarkan ide kita yang semula masih berupa abstraksi menjadi gambaran yang gamblang agar penerbit mendapat penjelasan tentang ide kita dan tertarik untuk mencetaknya dalam bentuk buku.

Penutup 


Akhirnya, di penghujung buku, sang Komporis Buku Indonesia ini mencantumkan ‘bonus’ 101 ide penulisan buku dari beragam topik di segala sendi kehidupan manusia.

Buku ini tak hanya cocok dibaca oleh para peminat dunia literasi, baik pemula maupun profesional. Namun, hendaknya dibaca pula oleh pemerintah secara umum dan praktisi birokrat yang punya hubungan dengan dunia perbukuan secara langsung, untuk lebih memperhatikan industri perbukuan serta dunia literasi Indonesia, agar semakin banyak ide nan menarik, penting dan amanat, yang bisa jadi akan mengubah wajah Indonesia menjadi lebih baik. Selamat membaca.

Posting Komentar untuk "Resensi: The Art of Stimulating Idea Bambang Trim"