9 Cara Manusia dalam Menangani Wabah di Masa Lalu

Sejak dulu penyakit menular telah hadir merusak kesehatan manusia. Sebagiannya berubah menjadi wabah dan pandemi. Maka sejak dulu pula, manusia berupaya membendungnya dengan beraneka cara yang diyakini mampu menghambat penularan tersebut.

Wabah mulai tercatat pada zaman Yunani di tahun 430 - 427 SM. Penduduk di wilayah Athena, Sparta, dan bagian timur Mediterania terkena wabah yang gejalanya seperti tipes, flu, dan kejang-kejang. Saat itu tentu saja ilmu kedokteran sangat jauh dari kata modern.

Wabah-wabah yang lain juga terus terjadi. Bahkan katanya, seratus tahun sekali wabah besar atau sering disebut pandemi muncul. Kalau ditarik ke belakang, sebelum pandemi akibat virus Corona baru ini, pada 1920 telah terjadi Flu Spanyol yang menginfeksi setidaknya 500 juta orang. Kemudian pada 1820 ada wabah kolera dengan korban 1.225 orang meninggal dunia.

Seratus tahun sebelum wabah kolera itu pun ada wabah sampar, dimana Marseille menjadi episentrum dan menewaskan lebih dari seratus ribu orang. Jeda ratusan tahun itu tentu memberi cara-cara yang berbeda bagi manusia dalam menghadapi wabah. Nah, marilah kita intip saja cara mereka untuk menghindari penularan wabah dalam daftar berikut ini.

Topeng Berparuh


Topeng berparuh ini kerap terlihat di film-film yang ber-genre horor. Namun pada kenyataannya, topeng semacam ini dipakai oleh tenaga medis di masa lalu untuk mencegah dirinya tertular penyakit.

Topeng itu bisa disejajarkan dengan masker di masa sekarang. Lubang untuk mata itu juga dipasangi kristal agar tetap bisa melihat dengan jelas. Ia dipasangkan dengan baju hazmat zaman dulu yang terbuat dari bahan yang dilapisi lilin agar mencegah darah dan cairan tubuh tidak masuk ke pakaian mereka.

Uniknya didalam paruh topeng tersebut dijejali dengan rempah-rempah untuk mengurangi bau dan dipercaya mencegah penularan. Kadang-kadang, para tenaga medis tersebut menggigit bawang putih di mulut mereka ketika memeriksa mayat yang menjadi korban dari wabah tersebut.

Membunuh Kucing dan Anjing


Pada tahun 1665, ada sebuah wabah yang melanda kota London. Sampai suatu hari, otoritas setempat mengumumkan untuk memusnahkan kucing dan anjing agar wabah segera berakhir. Karena dipercaya kedua hewan tersebut menjadi pembawa penyakit yang menyebabkan tersebarnya wabah tadi.

Isolasi


Ternyata metode memutus penularan penyakit dengan cara karantina sudah dipakai sejak lama. Metode karantina zaman dulu dipakai di pelabuhan-pelabuhan. Sebab penyebaran yang paling masih dari wabah saat itu adalah di pelabuhan.

Pada abad pertengahan, penyebaran penyakit terjadi didalam kapal. Kondisi kapal yang sempit, lembab, dan kesehatan yang sering tak dihiraukan menjadi tempat yang sempurna bagi penyebaran penyakit. Sesampainya di daratan, anak buah kapal tadi menyebarkannya ke orang-orang di pelabuhan.

Untuk itulah bagi siapapun yang baru mendarat, mulai tahun 1448, setiap orang diwajibkan untuk dikarantina selama 40 hari sebelum bisa melanjutkan perjalanannya atau memulai pelayarannya.

Mencambuk Diri Sendiri


Pada tahun 1349, jalanan di London terkesan mengerikan. Saat itu ada banyak orang berdiri di pinggir jalan, berbaris, dan mencambuki diri sendiri dengan sebilah tali mirip ekor sapi yang ujungnya diberi kuku-kuku yang tajam.

Mereka percaya bahwa dengan begitu, Tuhan akan membebaskan wabah yang terjadi pada dirinya. Sebab dengan mencambuk diri sendiri, merupakan cara terbaik dalam menghukum tubuhnya yang penuh dosa. Di dalam tubuh yang bersih dari dosa, tidak akan ada lagi wabah yang menimpa.

Pengobatan dengan Ayam Jantan


Pernah terjadi wabah bubo pada abad ke 17. Bubo merupakan pembengkakan pada pangkal paha maupun ketiak karena virus yang ditularkan oleh hewan pengerat seperti tikus. Untuk mengobatinya, orang-orang pada masa itu menggunakan ayam jantan.

Agar tidak menularkan ke yang lain, penderita bubo kemudian diterapi dengan menggunakan ayam jantan. Caranya memang cukup konyol, yakni menempatkan pantat ayam yang sudah dicabuti bulunya tepat di bagian yang diderita. Ayam tersebut akan dibiarkan hingga mati sampai bubo itu mengecil.

Bagaimana jika bubo-nya tidak mengecil? Ayam yang lain akan diambil dan diperlakukan dengan cara yang sama hingga bubo itu hilang.

Menghilangkan Bau Tak Sedap


Pada sekitar tahun 1357, masyarakat Eropa percaya bahwa bau tidak sedap menjadi penyebab penyebaran penyakit. Otorita setempat menyarankan agar warganya memakai parfum dan wewangian lainnya untuk menutupi bau busuk yang disebabkan oleh kotoran dari kuda yang ada di jalanan.

Saat itu ditemukan pula cuka Marseille yang berasal dari paduan cuka, rempah-rempah, dan bawang putih yang cukup kuat untuk mengatasi aroma tak sedap di jalanan. Ramuan ini diciptakan oleh pencuri yang masuk ke rumah kosong akibat pemiliknya meninggal karena wabah. Mereka ditangkap dan menyerahkan ramuan cuka itu guna menghindari hukuman mati.

Membuat Api Unggun Besar


Wabah juga pernah terjadi pada 1665 di Eropa. Saat itu udara kotor dipercaya otorita setempat sebagai biang keladi dari penyebaran penyakit. Oleh karenanya mereka berinisiatif 'membersihkan' udara tersebut dengan cara membakarnya.

Maka dibuatlah api unggun besar yang menyala terus-menerus selama tiga hari penuh. Udara kota penuh asap dan berwarna merah. Jalanan hanya dihuni oleh orang yang membakar api unggun juga di dekat rumahnya. Mereka hanya memastikan api itu tetap menyala dan tidak membakar rumahnya. Meski udara penuh asap, ribuan orang tetap meninggal akibat wabah yang terjadi.

Mengucurkan Darah


Sayatan yang menyebabkan darah mengucur pernah dipercaya dalam dalam menghilangkan beragam penyakit. Selama ratusan tahun, hal ini dipercaya menyembuhkan demam yang kerap menjadi gejala dari sebuah wabah. Maka ketika wabah terjadi, darah mengucur dimana-mana tanpa terkendali.

Teknik pengobatan itu akhirnya disiasati agar darah tidak mengucur kemana-mana. Maka para tenaga medis waktu itu menggunakan lintah agar menyedot darah pasien. Alhasil harga lintah pun melambung tinggi saat itu.

Pengobatan dengan teknik mengucurkan, mengeluarkan, atau menyedot darah dengan lintah masih dipakai oleh praktik pengobatan alternatif di dunia modern saat ini.

Karantina Wilayah


Karantina wilayah juga telah dipakai sejak dulu. Pada tahun 1770, Permaisuri Maria Theresa dari Austria mendirikan sebuah cordon sanitaire antara negerinya dan milik Kekaisaran Utsmani.

Cordon sanitaire inilah yang mirip dengan karantina wilayah saat ini. Konsepnya adalah menjaga agar warga didalamnya pergi keluar wilayah. Apabila ada yang masuk dari luar wilayah, maka mereka akan ditahan selama 48 hari untuk memastikan kalau mereka tidak terinfeksi penyakit.

Karantina itu terjadi selama 101 tahun dan mencakup wilayah seluas 1.600 kilometer. Tentara disiagakan untuk menjaga wilayah yang dikarantina. Sepanjang masa itulah, Austria bebas dari wabah meski wilayah di sekitarnya berulang kali terserang.

Belum ada Komentar untuk "9 Cara Manusia dalam Menangani Wabah di Masa Lalu"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel