Tiga Komponen Pariwisata Menurut Dartim Yudha

Dartim Yudha terlihat cerah di siang itu. Dengan baju hitam berlogo Dewan Kesenian Indramayu di dada sebelah kirinya, ia menyambut Kang Didno dan saya di ruang sebelah kanan Museum Bandar Cimanuk.

Agenda saya memang bertemu dengan Kang Didno untuk serah terima hadiah Lomba Blog City Branding Indramayu. Sayangnya, pendiri Blogger Mangga itu buru-buru pergi karena ada keperluan lain. Sehingga tanpa terencana sebelumnya, saya dipertemukan dengan Dartim Yudha, seorang pelukis yang dikenal dengan karyanya: Painting Over Old Money.

Dartin Yudha

Tentang Dartim Yudha


Dartim Yudha merupakan sosok yang begitu familiar buat pegiat seni di Indramayu. Beliau senior dalam segala hal, baik usia maupun kiprahnya di dunia seni. Jadi ketika banyak orang terbiasa memanggilnya dengan panggilan Wa Dartim, saya pun ikut-ikutan. Alumni Jurusan Seni Lukis IKJ-LPKJ tahun 1978 ini selalu semangat ketika berbicara soal seni.

Wa Dartim memaparkan beberapa hal yang sedang dikerjakannya dan apa yang sedang terjadi di bidang yang sudah menjadi kehidupannya ini. Beliau banyak berbicara soal rencana Peraturan Daerah tentang Cagar Budaya, soal Cimanuk, dan rencana-rencana pariwisata Indramayu. Ada begitu banyak hal dari obrolannya yang lugas dan terus terang. Mungkin karena bidangnya adalah seni lukis, jadi saya tak menemui kata-kata yang bersayap maupun multitafsir dari keseluruhan percakapannya. Beliau apa adanya.

Mengapa Disebut Cimanuk?


Muara Cimanuk menjadi pusat perhatian ketika pada masa lampau, sekitar tahun 1512, Cimanuk menjadi pelabuhan terbesar kedua setelah Sunda Kelapa. Otensitas sejarah tersebut terlihat di tepian kiri dan kanan sungai tersisa beberapa bangunan dengan ornamen Belanda dan Cina yang masih bisa dilihat sampai hari ini.

Ada banyak yang bertanya mengapa basis awal tata pariwisata Indramayu dimulai dari melakukan branding atas sungai Cimanuk? Bukan buah mangga yang sudah jadi ciri khas? Bukan juga soal garis pantai yang membentang dari Krakal hingga Ujung Gebang?

Ternyata yang dijadikan pondasi dasar dari bangunan pariwisata Indramayu adalah sungai Cimanuk. Sungai yang membelah Kabupaten Indramayu dari wilayah selatan hingga ke utara.

Wa Dartim menjawabnya dengan cukup lugas bahwa hanya Indramayu yang memiliki sungai Cimanuk dengan segala nilai historisnya. Muara sungai ini pernah menjadi pelabuhan penting ketika bangsa Eropa pertama kali mendarat di Jawa.

Arus perdagangan begitu masif. Cimanuk menjadi legenda yang begitu banyak diperbincangkan. Meski pada akhirnya pelabuhan itu mati semati-matinya, upaya pegiat parwisata di Indramayu dalam 'menghidupkan' kembali nuansa pelabuhan di muara Cimanuk memang perlu banyak diapresiasi.

Muara Cimanuk menjadi pusat perhatian ketika pada masa lampau, sekitar tahun 1512, Cimanuk menjadi pelabuhan terbesar kedua setelah Sunda Kelapa. Otensitas sejarah tersebut terlihat di tepian kiri dan kanan sungai tersisa beberapa bangunan dengan ornamen Belanda dan Cina yang masih bisa dilihat sampai hari ini. Muara Cimanuk adalah pusat pemerintahan sekaligus denyut nadi perekonomian penting di Jawa.

Foto-foto masa lampau itu pun masih ada dan berhasil didokumentasikan Nang Sadewo. Difasilitasi oleh Jaap Anten (KITLV - LEIDEN), Nang Sadewo yang juga ketua dari Indramayu Historia Foundation berhasil menemui para ahli waris yang pernah tinggal di sekitar muara Cimanuk dan memiliki foto-fotonya.

Versi lengkap dari perjalanan Nang Sadewo dan foto-fotonya bisa dilihat di Sudut Jejak Indramayu Tempo Dulu.

Memori kejayaan itu yang kemudian ingin dibangkitkan oleh pegiat parwisata, dimana Wa Dartim menjadi bagiannya. Cimanuk dengan segala historinya, katanya, hanya Indramayu yang punya. Sementara kalau buah mangga, bahkan Cirebon dan Majalengka sudah memilikinya meski dengan kualitas yang berada sedikit di bawah Indramayu.

Apalagi jika yang menjadi ikon adalah pantai dengan basis wisata bahari, ini sudah masif dimiliki oleh banyak daerah di Indonesia. Maka Cimanuk adalah kekhususan, kekhasan, dan sebuah manifestasi dari jayanya ekonomi dan kuatnya pemerintahan yang pernah ada di muara Cimanuk. Ini tentu saja tak dipunyai oleh daerah manapun.

Tiga Komponen Pariwisata versi Dartim Yudha


Simbol historis ini yang sedang digemakan oleh pegiat pariwisata Indramayu. Sehingga untuk mendukungnya, perlu diadakan sebuah aturan yang secara legal-formal mengikat semua warga Indramayu untuk turut serta menjaga dan melestarikan kultur Indramayu.

Pegiat pariwisata Indramayu, ungkap Wa Dartim, ingin agar tiga komponen mesti jalan dalam industri pariwisata yang boleh jadi lima atau sepuluh tahun ke depan baru bisa terlihat hasilnya. Berikut tiga komponen tersebut:

Kelestarian kesenian lokal


Hal ini meliputi segala macam kesenian yang asli Indramayu, baik perform maupun display, harus tetap bertahan dan dipertahankan orisinalitasnya. Ini tak boleh tereduksi oleh kultur luar yang destruktif. Kalau soal upaya mencampurkan dengan nuansa kontemporer sah-sah saja, asal ada upaya untuk tetap melestarikan yang aslinya.

Sejarah, bahasa dan tradisi


Untuk masalah bahasa, Wa Dartim menyebut Ki Tarka Hanacarakajawa. Beliau seorang pegiat bahasa Jawa kuna yang tinggal di Cikedung, Indramayu. Kegiatan Ki Tarka harus banyak didukung sebagai wujud pelestarian bahasa agar pelacakan terhadap sejarah dan tradisi sebuah bangsa bisa lestari. Ini terkait dengan identitas sebuah komunitas manusia.

Dokumentasi


Pelan namun pasti, Indramayu punya museum yang menempati sebuah gedung eks Gedung Biro Maritim dan Kepabeanan Pemerintah Hindia Belanda alias Boomzaken di Jalan Veteran. Ini sebagai langkah awal dalam mendokumentasikan cagar budaya yang terserak dimana-mana. Dokumentasi sejarah adalah bagian penting dari pewarisan nilai masa lampau yang menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya.

Tiga komponen itulah yang ingin dikembangkan oleh Wa Dartim dan kawan-kawan untuk dibenamkan dan melebur ke dalam sebuah misi besar: pariwisata Indramayu yang berbasis sejarah Cimanuk.

Pola Pikir dan Kebiasaan


Namun yang pertama dan lebih penting untuk disiapkan adalah pola pikir dan kebiasaan warga Indramayu, seluruhnya. Faktor keamanan, kondusifitas, kultur, pekerti, tata krama, sikap, dan juga kearifan lokal mesti disiapkan agar pariwisata ini tak cuma industri yang mementingkan laba semata.

Wa Dartim mencontohkan Bali. Di Pulau Dewata itu mungkin banyak orang minum-minuman keras, namun mereka disiplin untuk tak meminumnya di pinggir jalan dan mengganggu orang lewat. Juga di Jogjakarta, dimana becak sebagai moda transportasi ramah lingkungan, begitu taat dan patuh terhadap rambu-rambu lalu-lintas.

Yang perlu dimiliki juga adalah soal kepemilikan ide pariwisata ini. Ini bukan semata soal ide satu dau kelompok saja, namun lebih jauh ini merupakan ide dan gagasan dari warga Indramayu seluruhnya, karena ketika pariwisata berjalan, maka akan hadir begitu banyak orang yang pada akhirnya bermuara pada kehidupan dan penghidupan warga masyarakat Indramayu seluruhnya.

Posting Komentar untuk "Tiga Komponen Pariwisata Menurut Dartim Yudha"