Cara Menyikapi Jika Ada Orang yang Benci

Dalam menjalani kehidupan, setiap orang punya standar masing-masing. Dan standar itu akan dipakai dalam menentukan seperti apa dan dengan siapa saja kehidupan tersebut bakal dijalani. Sayangnya, ada jalan hidup yang memungkinkan kita tak bisa menghindar dari orang-orang yang menurut standar kita tidak baik. Misalnya rekan kerja atau teman kuliah.


Ada banyak orang yang menurut kita memang menyebalkan, suka mengganggu, peminjam barang dan uang namun tak mengembalikannya. Dan memang seperti inilah kehidupan. Ia tak akan sesempurna yang kita pikirkan. Jika orang-orang macam ini tak kita hadapi, apakah kehidupan yang sedang kita jalani ini mesti ditinggalkan? Tidak juga. Karena di peristiwa yang lain, kita pun akan menemukan sifat-sifat yang tak sesuai standar kebaikan kita.

Untuk itu, ada baiknya kita belajar cara cerdas agar orang-orang yang tak kita sukai itu, tidak mengganggu kehidupan kita.

1. Kita harus menerima bahwa kita pun tak akan disukai oleh semua orang, begitu juga sebaliknya

Kadang-kadang kita menganggap diri kita dengan standarnya sudah cukup baik, dan akan berakibat untuk disukai oleh orang lain. Ternyata tidak juga. Ada saja orang yang tak menyukai kebaikan kita. Sebabnya jelas, masing-masing orang punya standar yang berbeda-beda sesuai dengan karakternya. Jadi sikap kita semestinya memahami kondisi semacam ini.

Orang-orang mungkin sudah berbuat senormal mungkin, namun dengan standar yang kita punya, ia masih punya alasan untuk tidak disukai. Oleh karena itu, sekali lagi, memahami kondisi seperti ini adalah bentuk kecerdasan yang mesti dipelajari.

2. Bersikap toleran atas siapapun yang tak kita sukai

Perasaan tidak suka kadang tumbuh akibat perbedaan pendapat yang terjadi secara terus menerus. Dan ketika silang pendapat yang terjadi secara terus menerus inilah, satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah bersikap toleran. Kita punya pendapat, dan dia pun punya sudut pandang yang berbeda dengan kita. Ya sudah saja sama-sama mengembangkan sikap saling menghargai, meski sama-sama tidak suka.

3. Meski tidak suka, tetaplah bertindak secara beradab

Bagaimana merefleksikan rasa tidak suka? Kita ingin menarik rambutnya, mencakar mukanya, kemudian menonjoknya tepat di ulu hati? Begitu kah? Lalu rasa tidak suka itu pun akan semakin mengkristal dan membesar karena kita akan berada di dalam penjara. Untuk itu, menetapi sikap beradab itu penting. Tetap menjaga sopan santun, ramah tamah, dan berjalan apa adanya meski kita tidak suka dengan seseorang. Kalau emosi, tarik nafas saja, dan sebisa mungkin menghindar darinya.

4. Meninjau kembali pengharapan kita pada orang lain

Adakalanya rasa tidak suka ditimbulkan oleh harapan yang tidak sampai. Atau sebenarnya, harapan itu justru terlampau berlebihan sehingga kita tak mendapatkan hasil yang memadai. Karena boleh jadi rasa tidak suka itu disebabkan karena standar kita terlalu tinggi dalam mengukur orang lain. Coba tinjau kembali harapan kita pada orang lain, dan kalau bisa turunkanlah sesuai kenyataan yang ada.

5. Fokus pada diri sendiri

Ini mungkin terdengar sedikit egois. Namun memfokuskan pada kegiatan sendiri, pada sikap sendiri, dan pada kondisi diri sendiri, akan meminimalisir berkembangnya pikiran terhadap orang-orang yang tak kita suka. Sikap ini kira-kira berada pada posisi di bawah mengabaikan.

Lalu, apa selanjutnya agar rasa tidak suka ini berkembang ke arah yang negatif. Helloooww... rasa tidak suka sudah berarti negatif, jika mau berkembang ke arah positif, sebaiknya pelan-pelan rasa ini dihapus saja. Ya daripada menyakiti diri sendiri, lama-lama tumbuh penyakit? Caranya bagaimana?

Coba lakukan jeda, tarik nafas, agar kita bisa bersikap datar dengan orang yang tak disuka tadi. Kalau hal itu belum bisa, ya sebisa mungkin tetap menjaga jarak. Karena selain menghilangkan rasa tidak suka ini butuh waktu, ini pun bukan usaha yang cukup mudah.