6 Cara Atasi Sindrom Pasca-Liburan

Liburan memang menyenangkan. Itulah saat kita melupakan sejenak hiruk-pikuk dunia kerja yang mungkin menjemukan. Namun ada saatnya liburan itu berakhir. Dan ini berarti semua orang bakal kembali ke tempat kerja masing-masing. Kita akan meninggalkan senang-senang setelah liburan dan waktu luang bersama keluarga.

Kita akan kembali menghadapi tumpukan kerjaan, tenggat waktu, dan kadang amarah atasan. Itulah mengapa banyak orang yang setelah liburan bakal dihinggapi oleh sindrom pasca-liburan. Sebuah sindrom yang jika tidak diantisipasi dengan baik, bakal mengganggu kinerja kita.

Sindrom pasca liburan kadang masih mengganggu pekerjaan [Sumber: Cpjobs.com]

Banyak yang tidak siap menghadapi sindrom pasca-liburan. Sindrom ini adalah transisi. Jika tidak dihadapi maka gairah kerja yang sebelum liburan ada, bisa jadi hilang tanpa sisa. Proses melewati transisi ini mesti disikapi dengan bijaksana dan efektif, dan yang penting harus dilaksanakan pada hari pertama masuk kerja. Sebab kalau tidak, maka kita bakal menginginkan libur selamanya dengan beragam cara. Ini jelas berbahaya.

Berikut ini ada beberapa tips yang bisa dijadikan pedoman agar sindrom pasca-liburan tadi bisa hilang dengan sendirinya, dan kita bisa kembali bersemangat kerja.

1. Rapikan Meja Kerja

Bagian HRD biasanya memberikan peringatan sebelum libur panjang berlaku. Peringatan ini salah satunya diberikan agar setiap karyawan merapikan meja kerjanya masing-masing. Ini berarti, tak cuma soal penampilan meja saja, namun segalanya harus diselesaikan sebelum liburan tiba. Ya, serapi mungkin. Jika ada tugas, baik berupa email yang belum dibuka, atau surat-surat yang belum dibereskan, setelah libur selesai, maka segeralah jadikan prioritas untuk diselesaikan. Jangan tunggu hingga atasan memberikan tugas baru.

2. Lihat Lagi Kalender Agenda

Karena cukup lama meninggalkan kantor, boleh jadi ada banyak hal yang terlupa, termasuk agenda. Jadi lihat-lihat kembali kalender dan agendanya yang telah disusun sebelum liburan tiba. Sortir satu-persatu agar jangan sampai ada yang terlewat. Tapi, kalau di agenda tidak ada, bagaimana? Itu salah sendiri.

3. Prioritaskan Tugas

Kita mesti tahu mana yang penting dan mana yang kurang penting. Maka buatlah skala prioritas dari pekerjaan kita. Hari pertama bekerja setelah liburan adalah mirip seperti hari pertama setelah diterima bekerja. Bedanya hanyalah semua orang di tempat kerja tersebut sudah kita kenal. Untuk itu, prioritaskan segala sesuatunya sesuai dengan job description yang diberikan oleh HRD atau atasan.

4. Buang Jauh-Jauh Pengalih Perhatian

Kadang di hari-hari pertama, fokus pekerjaan belum terkumpul semuanya. Ada saja yang mengganggu. Untuk itu jangan bawa foto-foto liburan, jangan pula membuka social media, smartphone, dan segala macam yang bisa mengalihkan perhatian kita sementara waktu. Simpan semuanya sebelum fokus pekerjaan itu kita dapatkan kembali.

5. Tinggalkan Kantor Tepat Waktu

Setelah meninggalkan kantor cukup lama karena liburan, bukan berarti kita segera menebusnya dengan mengambil lembur. Hari pertama adalah pemanasan, buatlah segalanya rileks dulu, biarkan otak dan tubuh kita beradaptasi dengan lingkungan kantor dan beban pekerjaan. Dan ketika kita memutuskan untuk mengambil lembur, maka hari pertama tentu bakal melelahkan.

6. Terima Kenyataan Bahwa Semuanya Butuh Waktu

Kembali bekerja setelah liburan tentu memerlukan tekad yang kuat untuk kembali berada di meja kerja. Banyak orang memilih bolos bekerja. Meski banyak juga yang masuk, tapi tidak maksimal. Pikiran mereka masih liburan. Untuk itu terima saja kenyataan bahwa kita butuh waktu lagi untuk beradaptasi dengan pekerjaan yang digeluti. Semuanya butuh waktu, dan tak usah terburu-buru.