Halaman

    Social Items

Hidup adalah sebuah sungai yang selalu mengalir. Begitulah filosofi dari Buddha. Ia mengalir tanpa sedikit pun mengeluh, berjalan terus tanpa sedetik pun berhenti. Dari sungai, manusia belajar cinta, yang selalu memberi dan senantiasa melewatkan segala kesukaran. Maka cinta sejati selalu menyejukkan, menyenangkan dan terus mengalir tak kenal henti. Apakah sungai selalu seindah itu?

Kalau lihat di berita-berita, sungai senantiasa menjadi tempat sampah raksasa. Dimana di pintu-pintu airnya selalu tersangkut sampah dalam jumlah tak terkira. Lalu sungai pun marah, meluapkan unek-uneknya pada manusia yang tega mengkhianatinya. Banjir, sedimentasi, serta pencemaran hanyalah imbal balik dari apa yang diperbuat manusia. Sungai tak pernah melakukan apa-apa, selain air nan mengalir dari hulu ke hilir.
Lalu masihkah tersisa keindahan sungai di Indonesia? Masih, dan inilah lima sungai di Indonesia yang pastinya tidak kalah indah dengan sungai-sungai di luar negeri.

Menikmati Senja di Sungai Kapuas

Sungai Kapuas di kala senja. (Sumber: Pinterest.com)
Sungai kapuas merupakan yang paling panjang dari seluruh sungai yang ada di Indonesia. Dengan panjang kurang lebih 1.143 km, Kapuas melintasi pulau Kalimantan mulai dari Pegunungan Muller di perbatasan antara Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur, dan bermuara di Pontianak, Kalimantan Barat.

Anda tentu membayangkan dimana letak indahnya dari sungai yang panjang ini. Sementara Kalimantan hanya terdiri dari hutan, pemukiman Suku Dayak, serta di beberapa tempat menyimpan misteri satwa liar yang berbuah mitos. Cobalah mampir ke sekitar Jembatan Kapuas, dimana anda bakal menyeksamai sebuah sorotan lampu yang eksotis menerpa badan jembatan tersebut. Tentu paduannya adalah matahari sore yang bakal menyinari garis cakrawala dengan semburat warna kuning menyala.

Sungai Bawah Tanah Gua Pindul, Yogyakarta

Sungai di bawah tanah di Goa Pindul. (Sumber: goapindul.com)
Apa yang lebih mengasyikkan dari menyusuri sebuah sungai? Riak airnya? Kelok alurnya? Atau pemandangan sekitarnya? Anda bisa dapatkan itu semua bahkan dengan bonus menysuri gua ketika berada di Sungai Bawah Tanah Gua Pindul.

Sungai di Gua Pindul ini benar-benar berada di bawah tanah, karena aliran airnya menembus Gua Pindul, Karangmojo, Gunung Kidul, Yogyakarta, Indonesia. Jadi lokasinya berada di bawah tanah, menelusuri tebing-tebing gua, dengan sedikit riak air yang begitu jernih alami.

Jika anda berpetualang di gua ini, maka anda pun secara langsung menelusuri legenda setempat. Ya, legenda tentang Joko Singlulung mencari ayahnya. Legenda itu berkaitan langsung dengan tebing-tebing, riak air dan alur sungai yang ada di Gua Pindul.

Gua Pindul sendiri merupakan sebuah rangkaian dari tujuh gua dengan aliran sungai berada di dalamnya. Selama kurang lebih 45 – 60 menit, anda bakal diajak untuk melihat-lihat sisi dalam perut bumi dengan jalur sepanjang 300 meter. Yang ditawarkan dari petualangan ini adalah anda bisa melihat stalaktit dan stalakmit dari dekat, serta batu-batuan kristal yang tersebar di dinding-dinding gua. Indah? Tentu saja.

Ombak Besar di Sungai Kampar

Ombak besar yang disebut Bono di hilir Sungai Kampar. (Sumber: travel.kompas.com)
Biasanya ombak hanya terjadi di lepas pantai saja. Tapi tidak dengan yang terjadi di Sungai Kampar. Di bagian muara sungai ini terjadi fenomena alam yang unik, yakni pertemuan arus sungai dengan ombak dari laut pasang menjadikan deburan ombak di muara sungai.

Fenomena yang oleh orang setempat disebut Bono ini mengakibatkan banyak wisatawan baik lokal maupun asing untuk datang ke lokasi yang berada di Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau, Indonesia ini. Kebanyakan tujuannya ingin melihat seunik apa bono tersebut. Namun tak sedikit pula, terutama turis asing, yang berkunjung ke tempat ini untuk berselancar. Iya, kapan lagi bisa berselancar di sungai, bukan? Anda tertarik?

Green Canyon di Sungai Cijulang

Sungai Cijulang mengaliri kawasan Green Canyon. (Sumber: geomagz.geologi.esdm.go.id)
Sungai Cijulang hanyalah sungai biasa yang mengalir di pegunungan. Tapi ketika sampai di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat Indonesia, cerita tentang sungai ini jadi begitu terkenal. Bahkan nama Sungai Cijulang sendiri kemudian tenggelam bersamaan dengan munculnya salah satu lokasi yang namanya mirip dengan tebing-tebing curam di negeri Paman Sam. Ya, Green Canyon. Sebuah tebing hijau yang mengitari Sungai Cijulang menjadi magnet bagi siapapun untuk berkunjung.

Menurut warga setempat, jika mau berkunjung ke Green Canyon sebaiknya dilakukan pada musim kering. Karena ketika musim hujan, alih-alih melihat hijaunya air dan tebing malah melihat erosi yang membuat warna air jadi coklat susu.

Untuk mencapai Green Canyon memang dibutuhkan petualangan yang lumayan menyita waktu dan tenaga. Seperti menyusuri jalanan berkelok khas wilayah selatan Jawa Barat, hingga jalan kaki menuju sungai Cijulang untuk menaiki perahu menuju Green canyon. Tapi, semuanya terbayar ketika tebing batu yang menghimpit sungai disertai rimbun pepohonan beradu dengan jernihnya air Cijulang. Sempurna.

Kali Code, Menengok Wisata Tradisi dan Budaya Merawat Sungai Ala Yogyakarta

Kali Code dengan deretan rumah pelangi. (Sumber: Youtube.com)
Kali Code merupakan jenis sungai perkotaan yang paling bersih se-Indonesia. Gerakan pembersihan sungai ini dimulai sejak tahun 1970-an. Ya, empat puluh enam tahun silam. Dan dimulai pula oleh tokoh kemanusiaan Indonesia, Romo Mangun. Pada mulanya, rumah warga di tepian sungai itu hendak digusur oleh pemerintah, karena begitu kumuh dan kotor. Namun hal ini ditolak oleh Romo Mangun dengan mengajukan protes mogok makan. Beliau memilih mengajak warga untuk tidak membuang sampah ke sungai. Cara kedua yang ditempuh Romo Mangun adalah mulai membangun rumah menghadap sungai, sehingga sampah yang pernah dibuang terlihat jelas. Dan hasilnya bisa dinikmati saat ini. Kali Code beserta wilayah aliran sungainya merupakan protoype perkotaan dimana pemukiman pinggiran sungai bisa bersinergi untuk menciptakan air yang tetap bersih.

Cuma itu? Tentu tidak. Belakangan ini di tepi kali Code sedang hits dengan bentuk pemukiman bak Santorini di Yunani. Hanya saja warnanya bukan putih, tapi disentuh dengan warna-warni cerah disertai kalimat-kalimat motivasi ala Yogyakarta. Anda bisa melihat keunikan ini dari atas Jembatan Code. Pun jika kebetulan pada hari-hari ritual Merti Code, anda bakal menemukan upacara khusus yang dilakukan oleh Kesultanan Yogyakarta dengan tujuan mengingatkan masyarakat akan pentingnya merawat sungai.

Deretan Sungai Indah di Indonesia Yang Wajib Masuk Daftar Traveling Kamu

Hidup adalah sebuah sungai yang selalu mengalir. Begitulah filosofi dari Buddha. Ia mengalir tanpa sedikit pun mengeluh, berjalan terus tanpa sedetik pun berhenti. Dari sungai, manusia belajar cinta, yang selalu memberi dan senantiasa melewatkan segala kesukaran. Maka cinta sejati selalu menyejukkan, menyenangkan dan terus mengalir tak kenal henti. Apakah sungai selalu seindah itu?

Kalau lihat di berita-berita, sungai senantiasa menjadi tempat sampah raksasa. Dimana di pintu-pintu airnya selalu tersangkut sampah dalam jumlah tak terkira. Lalu sungai pun marah, meluapkan unek-uneknya pada manusia yang tega mengkhianatinya. Banjir, sedimentasi, serta pencemaran hanyalah imbal balik dari apa yang diperbuat manusia. Sungai tak pernah melakukan apa-apa, selain air nan mengalir dari hulu ke hilir.
Lalu masihkah tersisa keindahan sungai di Indonesia? Masih, dan inilah lima sungai di Indonesia yang pastinya tidak kalah indah dengan sungai-sungai di luar negeri.

Menikmati Senja di Sungai Kapuas

Sungai Kapuas di kala senja. (Sumber: Pinterest.com)
Sungai kapuas merupakan yang paling panjang dari seluruh sungai yang ada di Indonesia. Dengan panjang kurang lebih 1.143 km, Kapuas melintasi pulau Kalimantan mulai dari Pegunungan Muller di perbatasan antara Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur, dan bermuara di Pontianak, Kalimantan Barat.

Anda tentu membayangkan dimana letak indahnya dari sungai yang panjang ini. Sementara Kalimantan hanya terdiri dari hutan, pemukiman Suku Dayak, serta di beberapa tempat menyimpan misteri satwa liar yang berbuah mitos. Cobalah mampir ke sekitar Jembatan Kapuas, dimana anda bakal menyeksamai sebuah sorotan lampu yang eksotis menerpa badan jembatan tersebut. Tentu paduannya adalah matahari sore yang bakal menyinari garis cakrawala dengan semburat warna kuning menyala.

Sungai Bawah Tanah Gua Pindul, Yogyakarta

Sungai di bawah tanah di Goa Pindul. (Sumber: goapindul.com)
Apa yang lebih mengasyikkan dari menyusuri sebuah sungai? Riak airnya? Kelok alurnya? Atau pemandangan sekitarnya? Anda bisa dapatkan itu semua bahkan dengan bonus menysuri gua ketika berada di Sungai Bawah Tanah Gua Pindul.

Sungai di Gua Pindul ini benar-benar berada di bawah tanah, karena aliran airnya menembus Gua Pindul, Karangmojo, Gunung Kidul, Yogyakarta, Indonesia. Jadi lokasinya berada di bawah tanah, menelusuri tebing-tebing gua, dengan sedikit riak air yang begitu jernih alami.

Jika anda berpetualang di gua ini, maka anda pun secara langsung menelusuri legenda setempat. Ya, legenda tentang Joko Singlulung mencari ayahnya. Legenda itu berkaitan langsung dengan tebing-tebing, riak air dan alur sungai yang ada di Gua Pindul.

Gua Pindul sendiri merupakan sebuah rangkaian dari tujuh gua dengan aliran sungai berada di dalamnya. Selama kurang lebih 45 – 60 menit, anda bakal diajak untuk melihat-lihat sisi dalam perut bumi dengan jalur sepanjang 300 meter. Yang ditawarkan dari petualangan ini adalah anda bisa melihat stalaktit dan stalakmit dari dekat, serta batu-batuan kristal yang tersebar di dinding-dinding gua. Indah? Tentu saja.

Ombak Besar di Sungai Kampar

Ombak besar yang disebut Bono di hilir Sungai Kampar. (Sumber: travel.kompas.com)
Biasanya ombak hanya terjadi di lepas pantai saja. Tapi tidak dengan yang terjadi di Sungai Kampar. Di bagian muara sungai ini terjadi fenomena alam yang unik, yakni pertemuan arus sungai dengan ombak dari laut pasang menjadikan deburan ombak di muara sungai.

Fenomena yang oleh orang setempat disebut Bono ini mengakibatkan banyak wisatawan baik lokal maupun asing untuk datang ke lokasi yang berada di Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau, Indonesia ini. Kebanyakan tujuannya ingin melihat seunik apa bono tersebut. Namun tak sedikit pula, terutama turis asing, yang berkunjung ke tempat ini untuk berselancar. Iya, kapan lagi bisa berselancar di sungai, bukan? Anda tertarik?

Green Canyon di Sungai Cijulang

Sungai Cijulang mengaliri kawasan Green Canyon. (Sumber: geomagz.geologi.esdm.go.id)
Sungai Cijulang hanyalah sungai biasa yang mengalir di pegunungan. Tapi ketika sampai di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat Indonesia, cerita tentang sungai ini jadi begitu terkenal. Bahkan nama Sungai Cijulang sendiri kemudian tenggelam bersamaan dengan munculnya salah satu lokasi yang namanya mirip dengan tebing-tebing curam di negeri Paman Sam. Ya, Green Canyon. Sebuah tebing hijau yang mengitari Sungai Cijulang menjadi magnet bagi siapapun untuk berkunjung.

Menurut warga setempat, jika mau berkunjung ke Green Canyon sebaiknya dilakukan pada musim kering. Karena ketika musim hujan, alih-alih melihat hijaunya air dan tebing malah melihat erosi yang membuat warna air jadi coklat susu.

Untuk mencapai Green Canyon memang dibutuhkan petualangan yang lumayan menyita waktu dan tenaga. Seperti menyusuri jalanan berkelok khas wilayah selatan Jawa Barat, hingga jalan kaki menuju sungai Cijulang untuk menaiki perahu menuju Green canyon. Tapi, semuanya terbayar ketika tebing batu yang menghimpit sungai disertai rimbun pepohonan beradu dengan jernihnya air Cijulang. Sempurna.

Kali Code, Menengok Wisata Tradisi dan Budaya Merawat Sungai Ala Yogyakarta

Kali Code dengan deretan rumah pelangi. (Sumber: Youtube.com)
Kali Code merupakan jenis sungai perkotaan yang paling bersih se-Indonesia. Gerakan pembersihan sungai ini dimulai sejak tahun 1970-an. Ya, empat puluh enam tahun silam. Dan dimulai pula oleh tokoh kemanusiaan Indonesia, Romo Mangun. Pada mulanya, rumah warga di tepian sungai itu hendak digusur oleh pemerintah, karena begitu kumuh dan kotor. Namun hal ini ditolak oleh Romo Mangun dengan mengajukan protes mogok makan. Beliau memilih mengajak warga untuk tidak membuang sampah ke sungai. Cara kedua yang ditempuh Romo Mangun adalah mulai membangun rumah menghadap sungai, sehingga sampah yang pernah dibuang terlihat jelas. Dan hasilnya bisa dinikmati saat ini. Kali Code beserta wilayah aliran sungainya merupakan protoype perkotaan dimana pemukiman pinggiran sungai bisa bersinergi untuk menciptakan air yang tetap bersih.

Cuma itu? Tentu tidak. Belakangan ini di tepi kali Code sedang hits dengan bentuk pemukiman bak Santorini di Yunani. Hanya saja warnanya bukan putih, tapi disentuh dengan warna-warni cerah disertai kalimat-kalimat motivasi ala Yogyakarta. Anda bisa melihat keunikan ini dari atas Jembatan Code. Pun jika kebetulan pada hari-hari ritual Merti Code, anda bakal menemukan upacara khusus yang dilakukan oleh Kesultanan Yogyakarta dengan tujuan mengingatkan masyarakat akan pentingnya merawat sungai.