Setiap daaerah punya tradisi unik dalam menyambut Hari Raya Idulfitri. Salah satu daerah yang memiliki tradisi unik dalam memeriahkan hari raya umat Islam ini adalah Banyuwangi. Kabupaten yang terletak di wilayah 'tapal kuda' Pulau Jawa, dan masuk ke Provinsi Jawa Timur ini memiliki tradisi unik yang sayang untuk dilewatkan.

Banyuwangi memiliki sejarah yang panjang. Tercatat dalam sejarah, Banyuwangi terlahir dari rahim sejarah besar Blambangan. Saat itu nama Pangeran Tawang Alun dan Pangeran Danuningrat selalu disebut-sebut dalam pengelolaan daerah Blambangan. Hingga Blambangan masuk dalam pengelolaan Bali sampai pada zaman penjajahan Belanda yang kemudian memicu perang Puputan Bayu dan dalam prosesnya melahirkan wilayah bernama Banyuwangi tepatnya pada 18 Desember 1771.

Nama Banyuwangi sendiri memang berasal dari kata 'banyu' dan 'wangi', yang berarti 'air yang beraroma harum'. Secara etimologi Banyuwangi berasal dari sebuah legenda Sri Tanjung. Nama ini merupakan perlambang ketulusan dan kejujuran seorang istri yang menjadi korban fitnah kekuasaan dan angkara nafsu. Perpaduan legenda Sri Tanjung dan sejarah Blambangan membuat Banyuwangi memiliki banyak tradisi yang terus dilestarikan hingga sekarang.

Ada banyak tradisi unik di Banyuwangi, dan semuanya layak untuk disaksikan. Cuma bagi yang tak memiliki waktu banyak, empat tradisi populer dari kabupaten dengan populasi 1,6 juta jiwa ini layak mewakilinya. Untuk lebih jelasnya, mari disimak daftarnya.

1. Barong Ider Bumi

Barong Ider Bumi. (Gambar: krjogja.com)

Barong Ider Bumi merupakan sebuah tradisi yang masih bertahan sejak ratusan tahun silam. Tradisi ini dilaksanakan dengan maksud membersihkan kampung agar terhindar dari bala bencana. Tradisi ini biasanya dilaksanakan di seputaran Kecamatan Glagah.

Barong sendiri dipercaya masyarakat setempat sebagai makhluk legenda yang menjaga desa. Bentuk muka barong ini sedikit mirip dengan reog ponorogo di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Namun perbedaannya ia lebih kecil dan memiliki sayap warna-warni di sekitar wajah dan badannya.

Barong ini diarak oleh para sesepuh desa dengan berpakaian serba hitam. Para sesepuh desa ini kemudian menaburkan uang koin, beras kuning, dan bunga saat arak-arakan barong. Uang koin yang disebut sembur utik-utik tersebut kemudian diperebutkan oleh banyak orang, terutama anak-anak.

Barong Ider Bumi memiliki banyak makna filosofi selain barong yang menjadi penjaga desa tadi. Tradisi ini selalu dilaksanakan pada 2 Syawal. Angka 2 sendiri bermakna Tuhan menciptakan makhluknya berpasang-pasangan. Bunga yang digunakan untuk menaburkan pun ada 9 jenis, dengan koinnya berjumlah Rp99.900. Kalau dimaknai, ini berarti menyimbolkan asma Allah yang berjumlah 99.

2. Seblang Olehsari

Seblang Olehsari. (Gambar: budayajawa.id)
Seblang adalah sebuah tarian, dan Olehsari merupakan sebuah nama desa di Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Tarian Seblang di Desa Olehsari ini cukup terkenal kemana-mana. Hal ini disebabkan cara penunjukkan penarinya yang unik, yakni melalui proses 'kejiman' atau kesurupan yang dialami oleh sespuh desa.

Masyarakat setempat percaya kalau penari Seblang adalah seorang gadis dan merupakan keturunan Seblang pertama. Sehingga dari tahun ke tahun, penari Seblang tidak bakal jauh-jauh dari keluarga yang pernah menarikannya.

Seblang Olehsari bakal berlangsung selama tujuh hari di bulan syawal. Kegiatan ini diawali dengan menghias penari dengan lulur warna kuning atau dikenal dengan sebutan 'atal'. Penari tersebut dibalut dengan kain panjang dan kemben, kemudian kepalanya dimahkotai dengan pupus daun pisang dan bunga aneka warna.

Setelah agenda merias selesai, sang penari bakal diiring menuju pentas yang berada di tengah desa. Disitu sudah menunggu ratusan orang yang mengelilingi pentas lengkap dengan 45 gending. Penari pun mengajak penonton untuk menari dengan melemparkan selendang ke kerumunan penonton. Yang terkena selendang, wajib naik ke pentas dan ikut menari.

Seblang memang dipenuhi aura mistis sejak awal, namun kemeriahan dan antusiasme penonton yang berasal dari berbagai daerah sekitarnya membuatnya terlihat menjadi tradisi yang unik dan menarik.

3. Puter Kayun

Puter Kayun. (Gambar: radiobintangtenggara.com)
Beragam dokar hias tampak berderet-deret di jalanan Boyolangu, Banyuwangi. Mereka bakal bersama-sama menuju Pantai Watudodol yang berjarak sekitar 15 kilometer. Tradisi ini merupakan napak tilas dari Ki Buyut Jakso, yang dipercaya sebagai orang yang membangun jalan di kawasan utara Banyuwangi. Dan tradisi ini disebut Puter Kayun.

Sebelum pelaksanaannya pada awal syawal, Puter Kayun didahului dengan agenda ziarah ke makam Ki Buyut Jakso dan selama tiga hari berturut-turut diadakan tradisi kupat sewu alias seribu ketupat.  Puter Kayun disebut juga sebagai lebarannya para kusir dokar, atau delman, sebuah moda transportasi yang banyak digunakan oleh warga setempat.

4. Diaspora Banyuwangi

Diaspora Banyuwangi. (Gambar: merdeka.com)
Banyuwangi mungkin merupakan satu-satunya kabupaten yang serius menggelar diaspora bagi warganya. Setiap tahunnya diselenggarakan Diaspora Banyuwangi. Pada tahun 2018 ini jika Idulfitri bertepatan dengan tanggal 15 Juni, maka Diaspora Banyuwangi bakal digelar pada 17 Juni nanti.

Diaspora Banyuwangi merupakan tradisi tahunan yang dihelat secara khusus oleh pemerintah setempat untuk mengakomodasi warganya yang tinggal dan hidup di luar daerah. Banyak tokoh besar, termasuk Menteri Pariwisata, Arief Yahya, hadir di diaspora ini untuk menggalang solidaritas dan bertukar informasi dalam rangka membangun daerah.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mengalokasikan kuliner lokal secara gratis seperti pecel pitik, rujak soto, nasi cawuk, lontong sayur, hingga sayur kelor sambal sereh. Ada atraksi seni dan budaya yang juga ditampilkan untuk menghibur para perantau yang datang.

Bagaimana, tertarik untuk berkunjung ke Banyuwangi?

Empat Tradisi Unik di Banyuwangi Saat Idulfitri

Setiap daaerah punya tradisi unik dalam menyambut Hari Raya Idulfitri. Salah satu daerah yang memiliki tradisi unik dalam memeriahkan hari raya umat Islam ini adalah Banyuwangi. Kabupaten yang terletak di wilayah 'tapal kuda' Pulau Jawa, dan masuk ke Provinsi Jawa Timur ini memiliki tradisi unik yang sayang untuk dilewatkan.

Banyuwangi memiliki sejarah yang panjang. Tercatat dalam sejarah, Banyuwangi terlahir dari rahim sejarah besar Blambangan. Saat itu nama Pangeran Tawang Alun dan Pangeran Danuningrat selalu disebut-sebut dalam pengelolaan daerah Blambangan. Hingga Blambangan masuk dalam pengelolaan Bali sampai pada zaman penjajahan Belanda yang kemudian memicu perang Puputan Bayu dan dalam prosesnya melahirkan wilayah bernama Banyuwangi tepatnya pada 18 Desember 1771.

Nama Banyuwangi sendiri memang berasal dari kata 'banyu' dan 'wangi', yang berarti 'air yang beraroma harum'. Secara etimologi Banyuwangi berasal dari sebuah legenda Sri Tanjung. Nama ini merupakan perlambang ketulusan dan kejujuran seorang istri yang menjadi korban fitnah kekuasaan dan angkara nafsu. Perpaduan legenda Sri Tanjung dan sejarah Blambangan membuat Banyuwangi memiliki banyak tradisi yang terus dilestarikan hingga sekarang.

Ada banyak tradisi unik di Banyuwangi, dan semuanya layak untuk disaksikan. Cuma bagi yang tak memiliki waktu banyak, empat tradisi populer dari kabupaten dengan populasi 1,6 juta jiwa ini layak mewakilinya. Untuk lebih jelasnya, mari disimak daftarnya.

1. Barong Ider Bumi

Barong Ider Bumi. (Gambar: krjogja.com)

Barong Ider Bumi merupakan sebuah tradisi yang masih bertahan sejak ratusan tahun silam. Tradisi ini dilaksanakan dengan maksud membersihkan kampung agar terhindar dari bala bencana. Tradisi ini biasanya dilaksanakan di seputaran Kecamatan Glagah.

Barong sendiri dipercaya masyarakat setempat sebagai makhluk legenda yang menjaga desa. Bentuk muka barong ini sedikit mirip dengan reog ponorogo di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Namun perbedaannya ia lebih kecil dan memiliki sayap warna-warni di sekitar wajah dan badannya.

Barong ini diarak oleh para sesepuh desa dengan berpakaian serba hitam. Para sesepuh desa ini kemudian menaburkan uang koin, beras kuning, dan bunga saat arak-arakan barong. Uang koin yang disebut sembur utik-utik tersebut kemudian diperebutkan oleh banyak orang, terutama anak-anak.

Barong Ider Bumi memiliki banyak makna filosofi selain barong yang menjadi penjaga desa tadi. Tradisi ini selalu dilaksanakan pada 2 Syawal. Angka 2 sendiri bermakna Tuhan menciptakan makhluknya berpasang-pasangan. Bunga yang digunakan untuk menaburkan pun ada 9 jenis, dengan koinnya berjumlah Rp99.900. Kalau dimaknai, ini berarti menyimbolkan asma Allah yang berjumlah 99.

2. Seblang Olehsari

Seblang Olehsari. (Gambar: budayajawa.id)
Seblang adalah sebuah tarian, dan Olehsari merupakan sebuah nama desa di Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Tarian Seblang di Desa Olehsari ini cukup terkenal kemana-mana. Hal ini disebabkan cara penunjukkan penarinya yang unik, yakni melalui proses 'kejiman' atau kesurupan yang dialami oleh sespuh desa.

Masyarakat setempat percaya kalau penari Seblang adalah seorang gadis dan merupakan keturunan Seblang pertama. Sehingga dari tahun ke tahun, penari Seblang tidak bakal jauh-jauh dari keluarga yang pernah menarikannya.

Seblang Olehsari bakal berlangsung selama tujuh hari di bulan syawal. Kegiatan ini diawali dengan menghias penari dengan lulur warna kuning atau dikenal dengan sebutan 'atal'. Penari tersebut dibalut dengan kain panjang dan kemben, kemudian kepalanya dimahkotai dengan pupus daun pisang dan bunga aneka warna.

Setelah agenda merias selesai, sang penari bakal diiring menuju pentas yang berada di tengah desa. Disitu sudah menunggu ratusan orang yang mengelilingi pentas lengkap dengan 45 gending. Penari pun mengajak penonton untuk menari dengan melemparkan selendang ke kerumunan penonton. Yang terkena selendang, wajib naik ke pentas dan ikut menari.

Seblang memang dipenuhi aura mistis sejak awal, namun kemeriahan dan antusiasme penonton yang berasal dari berbagai daerah sekitarnya membuatnya terlihat menjadi tradisi yang unik dan menarik.

3. Puter Kayun

Puter Kayun. (Gambar: radiobintangtenggara.com)
Beragam dokar hias tampak berderet-deret di jalanan Boyolangu, Banyuwangi. Mereka bakal bersama-sama menuju Pantai Watudodol yang berjarak sekitar 15 kilometer. Tradisi ini merupakan napak tilas dari Ki Buyut Jakso, yang dipercaya sebagai orang yang membangun jalan di kawasan utara Banyuwangi. Dan tradisi ini disebut Puter Kayun.

Sebelum pelaksanaannya pada awal syawal, Puter Kayun didahului dengan agenda ziarah ke makam Ki Buyut Jakso dan selama tiga hari berturut-turut diadakan tradisi kupat sewu alias seribu ketupat.  Puter Kayun disebut juga sebagai lebarannya para kusir dokar, atau delman, sebuah moda transportasi yang banyak digunakan oleh warga setempat.

4. Diaspora Banyuwangi

Diaspora Banyuwangi. (Gambar: merdeka.com)
Banyuwangi mungkin merupakan satu-satunya kabupaten yang serius menggelar diaspora bagi warganya. Setiap tahunnya diselenggarakan Diaspora Banyuwangi. Pada tahun 2018 ini jika Idulfitri bertepatan dengan tanggal 15 Juni, maka Diaspora Banyuwangi bakal digelar pada 17 Juni nanti.

Diaspora Banyuwangi merupakan tradisi tahunan yang dihelat secara khusus oleh pemerintah setempat untuk mengakomodasi warganya yang tinggal dan hidup di luar daerah. Banyak tokoh besar, termasuk Menteri Pariwisata, Arief Yahya, hadir di diaspora ini untuk menggalang solidaritas dan bertukar informasi dalam rangka membangun daerah.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mengalokasikan kuliner lokal secara gratis seperti pecel pitik, rujak soto, nasi cawuk, lontong sayur, hingga sayur kelor sambal sereh. Ada atraksi seni dan budaya yang juga ditampilkan untuk menghibur para perantau yang datang.

Bagaimana, tertarik untuk berkunjung ke Banyuwangi?