Ada masanya saat mainan yang menjadi monopoli anak kecil, kemudian dimainkan oleh orang dewasa, segala usia. Ada masanya juga, sebuah benda dari jaman dahulu kala kembali tren dan berubah rupa. Dan ada masanya pula kala mainan gasing kembali berputar diiringi berbagai sugesti manfaat tak terkira.

Itulah yang terjadi pada saat ini. Ada tren dari sebuah mainan yang dimainkan hanya dengan putaran jari. Kamu menyebutnya fidget spinner, tapi kakak, ayah, dan kakek kamu menyebutnya gasing, sebab beda generasi. Tapi waktu seolah kembali berputar kembali. Sebagaimana fidget spinner lincah berputar di sela jari jemari.

fidget spinner
Fidget Spinner (Gambar: etsy.com)

Banyak kisah sukses yang mengiringi penjualan gasing ini. Sebab banyak peminat datang dengan ragam jarak ekonomi yang mengupayakan untuk membeli. Mereka membelanjakan uangnya untuk sebuah trendi, meski tak banyak juga yang membeli sebab iming-iming manfaat dari ahli psikologi.

Ya,  fidget spinner ini punya khasiat yang mampu membunuh kebosanan, penghilang stres, menambah fokus dan kosentrasi. Sebab boleh jadi mainan ini merupakan pengganti dari budaya memainkan bolpoin dan menggigit jari.

Meski dikenal banyak manfaat, sebagian sekolah di Singapura melarang fidget spinner ada di kelas mereka. Dikutip dari Strait Times (10/5/2017) setiap siswa yang ketahuan membawa mainan ini diminta untuk menyimpannya saja. Begitu juga di Inggris, sebagaimana dikutip dari Mirror (12/5/2017), yang melarang gasing ini dimainkan oleh siswanya.

fidget spinner
Fidget spinner (Gambar: cnn.com)

Tapi dibalik pro dan kontra, tren fidget spinner telah membawa banyak berkah bagi sebagian orang. Namun tahukah kamu, dibalik putaran cerianya fidget spinner ini ada kisah yang mungkin membuat ceriamu jadi hilang.

Sang Inventor yang Tak Tersohor

fidget spinner
Catherine Hettinger (Gambar: time.com

Fidget spinner ditemukan oleh Catherine Hettinger, seorang warga negara Amerika Serikat yang tinggal di Florida. Perempuan yang kini berusia 62 tahun ini pernah mengalami duka bersama mainan yang membuatnya dikenal di seluruh dunia.

"Ini adalah sebuah jalan untuk promosi kedamaian," demikian kata Catherine, yang dikutip Mirror (12/5/2017).

Catherine, sejak 1993, menderita penyakit yang disebut myasthenia. Penyakit ini membuatnya tak bisa bermain mainan yang normal dengan Sara, putrinya. Untuk itulah, ia membuat mainan sendiri, yang lebih ringan dari mainan yang ada. Dari situ, Catherine bertekad agar mainannya bisa membuat lebih terfokus dan tenang ketika dimainkannya.

Catherine pun berhasil membuat mainan therapeutic pertama. Dan sukses menjual dan mendapat laba. Ia pun membeli lisensi hak paten meski gagal memikat hati Hasbro, produsen mainan terkemuka. Namun pada tahun 2005, hak paten ini berakhir, sebab ia tak punya $400 untuk memperpanjangnya.

Mainan therapeutic itu sebenarnya cikal bakal fidget spinner yang kini dikenal dunia. Sementara itu, desainnya sudah bebas dipakai siapa saja. Sebab hak patennya sudah hilang dari tangan Catherine sejak lama. Namun, meski tak punya harta dan rela pindah ke rumah yang luasnya tak seberapa, Catherine bertekad memproduksi lagi mainan yang telah membuatnya bahagia.

"Banyak orang yang bilang saya gila. Tapi tak apa dianggap gila, asal saya bermanfaat bagi dunia," ungkap Catherine suatu ketika.

Sebab fidget spinner memang dianggap bermanfaat, baik oleh dokter syaraf maupun ahli psikologi. Ada banyak penderita ADHD yang terbantu atas mainan ini. Dan rasa bahagia Catherine mungkin melihat banyak orang ikut berbahagia dengan fidget spinner ini.

Kisah Sedih Dibalik Cerianya Putaran Fidget Spinner

Ada masanya saat mainan yang menjadi monopoli anak kecil, kemudian dimainkan oleh orang dewasa, segala usia. Ada masanya juga, sebuah benda dari jaman dahulu kala kembali tren dan berubah rupa. Dan ada masanya pula kala mainan gasing kembali berputar diiringi berbagai sugesti manfaat tak terkira.

Itulah yang terjadi pada saat ini. Ada tren dari sebuah mainan yang dimainkan hanya dengan putaran jari. Kamu menyebutnya fidget spinner, tapi kakak, ayah, dan kakek kamu menyebutnya gasing, sebab beda generasi. Tapi waktu seolah kembali berputar kembali. Sebagaimana fidget spinner lincah berputar di sela jari jemari.

fidget spinner
Fidget Spinner (Gambar: etsy.com)

Banyak kisah sukses yang mengiringi penjualan gasing ini. Sebab banyak peminat datang dengan ragam jarak ekonomi yang mengupayakan untuk membeli. Mereka membelanjakan uangnya untuk sebuah trendi, meski tak banyak juga yang membeli sebab iming-iming manfaat dari ahli psikologi.

Ya,  fidget spinner ini punya khasiat yang mampu membunuh kebosanan, penghilang stres, menambah fokus dan kosentrasi. Sebab boleh jadi mainan ini merupakan pengganti dari budaya memainkan bolpoin dan menggigit jari.

Meski dikenal banyak manfaat, sebagian sekolah di Singapura melarang fidget spinner ada di kelas mereka. Dikutip dari Strait Times (10/5/2017) setiap siswa yang ketahuan membawa mainan ini diminta untuk menyimpannya saja. Begitu juga di Inggris, sebagaimana dikutip dari Mirror (12/5/2017), yang melarang gasing ini dimainkan oleh siswanya.

fidget spinner
Fidget spinner (Gambar: cnn.com)

Tapi dibalik pro dan kontra, tren fidget spinner telah membawa banyak berkah bagi sebagian orang. Namun tahukah kamu, dibalik putaran cerianya fidget spinner ini ada kisah yang mungkin membuat ceriamu jadi hilang.

Sang Inventor yang Tak Tersohor

fidget spinner
Catherine Hettinger (Gambar: time.com

Fidget spinner ditemukan oleh Catherine Hettinger, seorang warga negara Amerika Serikat yang tinggal di Florida. Perempuan yang kini berusia 62 tahun ini pernah mengalami duka bersama mainan yang membuatnya dikenal di seluruh dunia.

"Ini adalah sebuah jalan untuk promosi kedamaian," demikian kata Catherine, yang dikutip Mirror (12/5/2017).

Catherine, sejak 1993, menderita penyakit yang disebut myasthenia. Penyakit ini membuatnya tak bisa bermain mainan yang normal dengan Sara, putrinya. Untuk itulah, ia membuat mainan sendiri, yang lebih ringan dari mainan yang ada. Dari situ, Catherine bertekad agar mainannya bisa membuat lebih terfokus dan tenang ketika dimainkannya.

Catherine pun berhasil membuat mainan therapeutic pertama. Dan sukses menjual dan mendapat laba. Ia pun membeli lisensi hak paten meski gagal memikat hati Hasbro, produsen mainan terkemuka. Namun pada tahun 2005, hak paten ini berakhir, sebab ia tak punya $400 untuk memperpanjangnya.

Mainan therapeutic itu sebenarnya cikal bakal fidget spinner yang kini dikenal dunia. Sementara itu, desainnya sudah bebas dipakai siapa saja. Sebab hak patennya sudah hilang dari tangan Catherine sejak lama. Namun, meski tak punya harta dan rela pindah ke rumah yang luasnya tak seberapa, Catherine bertekad memproduksi lagi mainan yang telah membuatnya bahagia.

"Banyak orang yang bilang saya gila. Tapi tak apa dianggap gila, asal saya bermanfaat bagi dunia," ungkap Catherine suatu ketika.

Sebab fidget spinner memang dianggap bermanfaat, baik oleh dokter syaraf maupun ahli psikologi. Ada banyak penderita ADHD yang terbantu atas mainan ini. Dan rasa bahagia Catherine mungkin melihat banyak orang ikut berbahagia dengan fidget spinner ini.