Banyak Cahaya Bintang, Mengapa Langit Malam Tetap Gelap? Ini Penjelasannya

Ada begitu banyak misteri di alam semesta ini yang tidak terpecahkan. Seperti siapakah penembak John F. Kennedy, dimanakah Hitler dimakamkan, dan ada apa dengan segitiga Bermuda? Dan ada satu misteri lagi, yakni mengapa langit malam begitu gelap, padahal disana ada begitu banyak bintang.

Seorang astronom asal Jerman, Heinrich Olbers, yang hidup pada tahun 1758 hingga 1840 pernah mengemukakan sebuah pertanyaan yang masyhur dengan sebutan 'paradoks langit malam' atau 'dark sky paradox'. Pertanyaan ini kurang lebih menyuguhkan sebuah paradoks, sebab ada begitu banyak bintang di langit, namun tak kunjung membuat langit itu terang. Bahkan kalau malam, jika tak ada titik-titik bintang, langit hampir gelap.


Olbers kemudian menjawab sendiri paradoks tersebut. Ia memberi saran pemikiran kepada komunitas astronomi di masanya dengan jawaban bahwa ada kabut hidrogen yang menutupi cahaya bintang-bintang tersebut.

Astronom yang meninggal pada 2 Maret 1840 di usianya yang ke 81 tahun tersebut kemudian menambahkan pendapat untuk menguatkan teorinya. Ia menaksir ada 100 hingga 200 miliar galaksi di alam raya ini. Sehingga, menurutnya, cahaya dari bintang-bintang tersebut tidak mencukupi untuk menyinari semesta. Inilah yang menyebabkan langit tetap gelap.


Lalu dua ratus tahun kemudian, atau tepatnya pada jaman sekarang, para astronom sudah memiliki peralatan yang cukup canggih untuk melakukan observasi alam semesta. Dengan memakai teleskop Hubble, para astronom mampu melihat langit lebih jelas dibanding pada jaman Olbers. Dan taksiran Olbers pun diperbaiki, sehingga angkanya pun naik menjadi dua triliun galaksi. Sehingga butuh 13 miliar tahun untuk menuju ke tepian alam semesta ini.

Seorang profesor astrofisika di Universitas Nottingham, Christopher Conselice, sebagaimana dikutip dari Independent berpendapat bahwa peningkatan jumlah galaksi tersebut memang wajar. Ia menambahkan pula bahwa luasnya semesta ini pun dipenuhi juga dengan bintang-bintang yang sama dengan teori dari Oblers.

Banyaknya bintang-bintang di triliunan galaksi itu pun cahayanya diserap pula oleh awan yang mengandung hidrogen. Teori yang sama persis dengan apa yang dikemukakan oleh Oblers, pada dua ratus tahun silam. Namun Conselice pun menjelaskan bahwa awan tersebut juga dihasilkan oleh bintang-bintang tersebut.

Keberadaan awan hidrogen ini telah dibuktikan oleh para ilmuwan dengan uji coba mendemonstrasikan spektrum cahaya. Jadi, awan ini benar-benar eksis diantara bintang-bintang yang memendarkan cahaya. Hasil penelitian ini bisa dibaca juga di Astrophysical Journal.

Namun hingga saat ini, para astronom belum mengetahui dengan pasti bagaimana dan dimanakah bintang tersebut menyembunyikan hidrogen yang menjadi 'tembok' yang menahan cahaya bintang itu diterima oleh bumi.

"Bisa jadi langit-langit itu berlapis, dan yang kita lihat gelap itu adalah batas horison yang membatasi antar lapisan tersebut," pungkas Conselice.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel