http://rumahnulis.blogspot.com/2015/08/a-brilliant-young-mind.html

A Brilliant Young Mind pada mulanya saya kira film yang mengetengahkan cerita tentang pencapaian seorang ilmuwan, seperti yang bisa ditemui dalam Immitation Game, A Beautiful Mind dan Theory of Everything. Ternyata film dengan judul asli X+Y ini benar-benar fiksi yang mengambil tema matematika beserta olimpiadenya. Mengisahkan seorang penderita autis yang kehilangan ayahnya karena kecelakaan. Ibunya menjadi single parent hingga sang anak menjadi wakil Inggris di Olimpiade Matematika dunia.

Nathan Ellis (Asa Butterfield) kehilangan sosok ayah yang sejak kecil terus menjaga dan memahaminya sebagai sosok yang autis. Anak autis memang cerdas, namun ia sukar mengungkapkan emosinya. Ayahnya, Michael Ellis (Martin McCan), benar-benar memahami sosok Nathan, hal yang sedikit berbeda dengan ibunya, Julie Ellis (Sally Hawkins). Kecenderungan emosional yang dimiliki sosok wanita rupanya menjangkiti Julie dalam menghadapi Nathan yang sangat mengedepankan logika. Kecelakaan yang menimpa Michael menyebabkan Julie mesti mengasuh Nathan seorang diri.

http://rumahnulis.blogspot.com/2015/08/a-brilliant-young-mind.html

Satu hal yang dipahami Julie adalah menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan Nathan harus berkesesuaian dengan matematika. Misalnya sarapan roti mesti persegi, yang dipotong menjadi segitiga sama sisi. Kemudian ketika membeli bakso harus sesuai dengan jumlah bilangan prima. Sialnya, Julie sering tidak memahami hal semacam ini. Ia hanyalah pengasuh di sebuah rumah jompo, yang tentu saja jauh dari hingar-bingar dunia akademis terutama matematika.

http://rumahnulis.blogspot.com/2015/08/a-brilliant-young-mind.html

Nathan dipertemukan dengan Martin Humphreys (Rafe Spall), seorang tenaga pengajar di sebuah SMA. Humphreys sejatinya merupakan sosok pria yang cerdas, namun watak malasnya membuatnya memiliki karir yang stagnan, bahkan cenderung menurun. Melalui Humphreys, Nathan diberi privat dan dimotivasi untuk mengikuti seleksi olimpiade matematika tingkat dunia mewakili Inggris. Sudah bisa ditebak, Nathan lolos mengikuti seleksi tim olimpiade tersebut yang bakal diadakan di Taiwan. Di ranah Tiongkok ini, klimaks mulai terjadi.

Menyeksamai Ender's Game dan Hugo, Asa Butterfield memang cocok memerankan karakter yang childish namun memiliki bakat yang tersembunyi. Kini di A Brilliant Young Mind, Asa bermain dengan karakter yang hampir sama. Dan untunglah Asa bukanlah suksesor Andrew Garfield maupun Tobey Maguire, karena ranahnya memang berbeda. Dengan menjadi Nathan, Asa tak menemui kesulitan yang berarti. Yang perlu juga diacungi jempol adalah akting Edward Baker-Close yang memerankan Nathan ketika kecil (9 tahun). Sementara akting pemeran pendukung lainnya sangat membantu sekali pencapaian film yang disutradarai oleh  Morgan Matthews ini, yakni cinta menyembuhkan segalanya. Sayangnya, 'Is There A Formula for Love' tidak begitu dieksplorasi lebih jauh.

http://rumahnulis.blogspot.com/2015/08/a-brilliant-young-mind.html

A Brilliant Young Mind sendiri merupakan semacam fictional spin-off dari film dokumenter televisi tahun 2007, Beautiful Young Minds, yang digarap juga oleh Morgan Matthews. A Brilliant Young Mind memang tak menggugah emosi terlampau dalam, ia ringan-ringan saja. Akan tetapi, pengambilan sudut gambar yang cantik serta kegagalan Nathan dalam mengungkapkan emosi justru menjadi letak dari bagusnya film ini. Masing-masing tokoh punya karakter yang khas, sehingga cukup mudah mengidentifikasi jalinan cerita yang dibangun penulis, James Graham.

Rating:

IMDb: 7.3
Saya: 7.5

Review: A Brilliant young Mind (2014) Adakah Rumus Untuk Cinta?

http://rumahnulis.blogspot.com/2015/08/a-brilliant-young-mind.html

A Brilliant Young Mind pada mulanya saya kira film yang mengetengahkan cerita tentang pencapaian seorang ilmuwan, seperti yang bisa ditemui dalam Immitation Game, A Beautiful Mind dan Theory of Everything. Ternyata film dengan judul asli X+Y ini benar-benar fiksi yang mengambil tema matematika beserta olimpiadenya. Mengisahkan seorang penderita autis yang kehilangan ayahnya karena kecelakaan. Ibunya menjadi single parent hingga sang anak menjadi wakil Inggris di Olimpiade Matematika dunia.

Nathan Ellis (Asa Butterfield) kehilangan sosok ayah yang sejak kecil terus menjaga dan memahaminya sebagai sosok yang autis. Anak autis memang cerdas, namun ia sukar mengungkapkan emosinya. Ayahnya, Michael Ellis (Martin McCan), benar-benar memahami sosok Nathan, hal yang sedikit berbeda dengan ibunya, Julie Ellis (Sally Hawkins). Kecenderungan emosional yang dimiliki sosok wanita rupanya menjangkiti Julie dalam menghadapi Nathan yang sangat mengedepankan logika. Kecelakaan yang menimpa Michael menyebabkan Julie mesti mengasuh Nathan seorang diri.

http://rumahnulis.blogspot.com/2015/08/a-brilliant-young-mind.html

Satu hal yang dipahami Julie adalah menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan Nathan harus berkesesuaian dengan matematika. Misalnya sarapan roti mesti persegi, yang dipotong menjadi segitiga sama sisi. Kemudian ketika membeli bakso harus sesuai dengan jumlah bilangan prima. Sialnya, Julie sering tidak memahami hal semacam ini. Ia hanyalah pengasuh di sebuah rumah jompo, yang tentu saja jauh dari hingar-bingar dunia akademis terutama matematika.

http://rumahnulis.blogspot.com/2015/08/a-brilliant-young-mind.html

Nathan dipertemukan dengan Martin Humphreys (Rafe Spall), seorang tenaga pengajar di sebuah SMA. Humphreys sejatinya merupakan sosok pria yang cerdas, namun watak malasnya membuatnya memiliki karir yang stagnan, bahkan cenderung menurun. Melalui Humphreys, Nathan diberi privat dan dimotivasi untuk mengikuti seleksi olimpiade matematika tingkat dunia mewakili Inggris. Sudah bisa ditebak, Nathan lolos mengikuti seleksi tim olimpiade tersebut yang bakal diadakan di Taiwan. Di ranah Tiongkok ini, klimaks mulai terjadi.

Menyeksamai Ender's Game dan Hugo, Asa Butterfield memang cocok memerankan karakter yang childish namun memiliki bakat yang tersembunyi. Kini di A Brilliant Young Mind, Asa bermain dengan karakter yang hampir sama. Dan untunglah Asa bukanlah suksesor Andrew Garfield maupun Tobey Maguire, karena ranahnya memang berbeda. Dengan menjadi Nathan, Asa tak menemui kesulitan yang berarti. Yang perlu juga diacungi jempol adalah akting Edward Baker-Close yang memerankan Nathan ketika kecil (9 tahun). Sementara akting pemeran pendukung lainnya sangat membantu sekali pencapaian film yang disutradarai oleh  Morgan Matthews ini, yakni cinta menyembuhkan segalanya. Sayangnya, 'Is There A Formula for Love' tidak begitu dieksplorasi lebih jauh.

http://rumahnulis.blogspot.com/2015/08/a-brilliant-young-mind.html

A Brilliant Young Mind sendiri merupakan semacam fictional spin-off dari film dokumenter televisi tahun 2007, Beautiful Young Minds, yang digarap juga oleh Morgan Matthews. A Brilliant Young Mind memang tak menggugah emosi terlampau dalam, ia ringan-ringan saja. Akan tetapi, pengambilan sudut gambar yang cantik serta kegagalan Nathan dalam mengungkapkan emosi justru menjadi letak dari bagusnya film ini. Masing-masing tokoh punya karakter yang khas, sehingga cukup mudah mengidentifikasi jalinan cerita yang dibangun penulis, James Graham.

Rating:

IMDb: 7.3
Saya: 7.5